SERGAI — Kongres yang mengusung tema "Menjemput Keadilan di Laut, Menolak Penghancuran Ekosistem, Memperkuat Perlindungan Sosial, dan Membela Hak Nelayan Tradisional Sumatera Utara" itu dibuka melalui pemukulan gong oleh Bupati Darma Wijaya bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan perwakilan organisasi nelayan. Ketua Panitia Supriadi menyampaikan apresiasi kepada Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Federasi Serikat Nelayan Nusantara (FSNN), dan Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) atas dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan.
Hadir dalam forum tersebut Bupati Sergai H. Darma Wijaya, Ketua Umum Aliansi Nelayan Sumatera Utara Bersatu (ANSU) Sutrisno, perwakilan Ketua Umum FSNN Anwar Sastro Ma'ruf, Ketua Umum PPNI Jumiati, serta perwakilan KIARA.
Apa yang Diperjuangkan dalam Kongres Nelayan Sumut
Kongres pertama ANSU menempatkan perlindungan hak nelayan tradisional sebagai agenda utama. Sutrisno menekankan pentingnya forum ini sebagai wadah memperkuat perjuangan nelayan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Ia mengajak pemerintah daerah terus memberikan perhatian, pembinaan, dan dukungan agar para nelayan dapat berhimpun dalam organisasi yang solid serta memiliki kemampuan lebih baik dalam memperjuangkan hak dan kepentingan mereka.
Persoalan ekosistem laut juga masuk dalam tema kongres. Penyelenggara menyatakan penolakan terhadap penghancuran ekosistem yang menjadi sumber penghidupan nelayan tradisional di kawasan pesisir Sumatera Utara.
Dorongan Bupati Sergai untuk Pola Pikir Produktif Warga Pesisir
Bupati Darma Wijaya mendorong masyarakat dan komunitas nelayan di kawasan pesisir terus mengembangkan pola pikir produktif demi meningkatkan kesejahteraan. Ia memaparkan komitmen pemerintah daerah dalam memfasilitasi kebutuhan penataan permukiman dan penyediaan sarana pendukung bagi masyarakat pesisir.
Dukungan serupa datang dari kepolisian. Kapolres Sergai AKBP Sah Udur T.M. Sitinjak melalui Kasi Humas Polres Sergai AKP Bringin Jaya menyampaikan bahwa Polres Sergai mendukung pelaksanaan kongres sebagai forum positif untuk memperjuangkan aspirasi dan kesejahteraan masyarakat nelayan.
Dua Hari di Kawasan Pantai Mangrove Kampung Nipah
Kegiatan berlangsung selama dua hari, 20–21 Oktober 2026, di kawasan Pantai Mangrove Kampung Nipah, Dusun III, Desa Sei Nagalawan. Kawasan mangrove tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu titik pesisir Sergai yang menjadi ruang hidup nelayan tradisional.
Kongres pertama ANSU menjadi penanda berhimpunnya organisasi nelayan Sumatera Utara bersama jaringan nasional seperti FSNN, PPNI, dan KIARA. Hasil kongres dua hari itu akan menjadi dasar perjuangan perlindungan sosial dan hak nelayan tradisional di tingkat daerah.