SUMATERA UTARA — Direktur Utama PT PLN (Persero) Suroso Isnandar dinilai punya kapasitas memperluas bauran energi terbarukan untuk menjaga kemandirian listrik nasional. Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuabi menilai latar belakang Suroso di sektor energi terbarukan menjadi modal penting menghadapi tekanan pasokan akibat kekeringan. Dukungan pendanaan dari Danantara disebut bisa mempercepat realisasi proyek surya hingga 100 gigawatt.
Kepemimpinan Suroso Isnandar di PT PLN (Persero) mendapat sorotan dari kalangan pengamat. Ibrahim Assuabi, pakar ekonomi dan pasar uang, menilai Direktur Utama PLN perlu menguasai lebih dari sekadar pembangkit konvensional seperti tenaga uap, diesel, dan air. Menurut dia, arah kebijakan energi Presiden Prabowo Subianto menuntut PLN memperkuat diversifikasi sumber pembangkit, terutama energi terbarukan.
Penilaian itu disampaikan Ibrahim saat dihubungi melalui telepon, Jumat malam (16/10). Ia menyoroti percepatan pemanfaatan energi surya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), termasuk dorongan pengembangan kapasitas hingga 100 gigawatt (GW) dalam agenda transisi energi.
Tekanan Kekeringan dan Gangguan Pasokan
Ibrahim mengaitkan gangguan pasokan listrik yang disebut terjadi di Batam dan sejumlah wilayah di Jawa dengan tekanan terhadap pembangkit listrik tenaga air (PLTA) akibat kekeringan yang dikaitkan dengan fenomena El Nino. Kondisi itu, menurutnya, menjadi pengingat pentingnya diversifikasi sumber energi agar pasokan tidak terlalu bergantung pada pembangkit yang kinerjanya dipengaruhi ketersediaan air.
Ia memperkirakan kekeringan dapat berlangsung hingga Januari. Karena itu, pengembangan energi terbarukan dinilai perlu mendapat dukungan serius agar mampu memperkuat pasokan listrik ketika sumber energi tertentu menghadapi kendala.
"Ya ini kekeringan ya berarti energi terbarukan ini harus disupport habis," kata Ibrahim.
Meski demikian, kemampuan energi terbarukan menopang pasokan saat kekeringan bergantung pada jenis teknologi, kapasitas terpasang, kesiapan jaringan, serta ketersediaan sistem penyimpanan atau pembangkit pendukung. Perencanaan sistem tetap dibutuhkan agar pasokan listrik andal.
Danantara Jadi Andalan Pendanaan
Selain kesiapan teknis, Ibrahim menyoroti kebutuhan pendanaan untuk mempercepat proyek energi terbarukan. Ia menyebut Danantara dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan bagi pengembangan proyek tersebut. Kemampuan Suroso menyusun strategi dan memaparkan kebutuhan investasi dinilai menjadi faktor penting untuk mendorong dukungan dana.
Ibrahim menyinggung laba Danantara yang disebut mencapai Rp120 triliun. Menurutnya, alokasi sekitar Rp50 triliun untuk energi terbarukan dapat memberikan dorongan signifikan apabila direalisasikan.
"Danantara pun juga sudah masuk. Berarti kan membutuhkan seorang direktur utama yang menguasai tentang apa? Tentang energi terbarukan. Nah, energi terbarukan ini dikuasai (Dirut Suroso) kemudian dia bisa melakukan (kerja sama) dengan Danantara. Kemungkinan Danantara akan mengeluarkan dana yang cukup besar dan bisa menjadi pendukung pendanaan proyek energi terbarukan," kata Ibrahim.
Target 100 GWp dan Peta Jalan RUPTL
Pemerintah sebelumnya telah meluncurkan program PLTS berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) pada 25 Agustus 2026. Program itu diawali dengan 14 proyek PLTS di enam provinsi dengan kapasitas gabungan 5,3 GWp.
Ibrahim juga menyoroti pentingnya optimalisasi proyek energi terbarukan yang masih dalam tahap pengembangan. Diversifikasi sumber energi pembangkit listrik dinilai menjadi kunci PLN sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Ia berharap kepemimpinan baru PLN mampu menyelaraskan pengembangan energi terbarukan, pemeliharaan pembangkit konvensional, kelancaran logistik energi, dan pemerataan akses listrik ke desa-desa. Keberhasilan strategi itu akan bergantung pada perencanaan teknis, kesiapan pendanaan, koordinasi lintas sektor, serta pelaksanaan proyek di lapangan.
Bagi pelanggan PLN, arah diversifikasi ini menentukan seberapa cepat pemulihan pasokan saat cuaca ekstrem melanda. Sementara bagi investor, kemampuan PLN mengunci pendanaan Danantara akan menjadi indikator sejauh mana target 100 GWp dapat dieksekusi dalam beberapa tahun ke depan.