MEDAN — Sejarah perkeretaapian Sumatera Utara dimulai pada 1883 saat Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) membangun jalur untuk menghubungkan perkebunan tembakau, karet, dan sawit dengan pelabuhan. Tonggak penting terjadi pada 25 Juli 1886, ketika jalur Medan–Labuhan resmi beroperasi dan menjadi fondasi sistem rel yang kini membentang hingga Rantau Prapat, Tanjungbalai, dan Pematangsiantar.
Dari Tembakau Deli ke Rantai Pasok Modern
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan rel di Sumatera Utara lahir dari kebutuhan akses ekonomi. “Dulu menghubungkan perkebunan dan pelabuhan, hari ini melayani perjalanan masyarakat, rantai pasok, kawasan industri, bandara, dan pusat-pusat ekonomi,” ujarnya.
Komoditas utama yang diangkut pada Januari–Mei 2026 meliputi BBM sebesar 145.959,255 ton, petikemas 130.012,781 ton, dan Crude Palm Oil (CPO) 40.280,260 ton. Sisanya adalah Barang Hantaran Potongan (BHP) dan lateks. Komposisi ini menunjukkan peran rel dalam distribusi energi, produk industri, dan hasil perkebunan.
43 Stasiun Aktif, 2,6 Juta Pelanggan Sepanjang 2025
Divre I Sumatera Utara mencatat 2.638.592 pelanggan pada 2025. Hingga Mei 2026, volume pelanggan mencapai 235.824 orang. Layanan yang tersedia meliputi KA Putri Deli, Sribilah Utama, Siantar Ekspres, Datuk Belambangan, dan Sri Lelawangsa.
Anne menambahkan bahwa stasiun-stasiun ini memiliki fungsi sosial yang kuat. “Bagi pelanggan, kereta api memberi kepastian perjalanan. Bagi pelaku usaha, kereta api membantu menjaga distribusi. Bagi daerah, stasiun membuka akses menuju layanan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan,” katanya.
Simpul Logistik di Belawan, Kuala Tanjung, dan Sei Mangkei
Keberadaan Pelabuhan Belawan, Kuala Tanjung, serta kawasan industri Sei Mangkei menjadikan Sumatera Utara titik strategis dalam rantai pasok nasional. Arahan Presiden Prabowo Subianto agar sistem kereta api menjadi fokus pembangunan memperkuat posisi KAI dalam agenda Trans Sumatera.
Di wilayah Divre I Sumatera Utara terdapat 148 perlintasan sebidang terjaga, terdiri dari 107 yang dijaga langsung oleh KAI. Jaringan ini menghubungkan Medan dengan Binjai, Tebing Tinggi, Kisaran, Tanjungbalai, Rantau Prapat, Pematangsiantar, Belawan, Kuala Tanjung, dan Kualanamu.
Efisiensi Logistik dan Pengurangan Beban Jalan Raya
Dengan panjang lintas aktif 476,460 kilometer, kereta api dapat mengambil peran lebih besar dalam memperkuat rantai pasok dan mengurangi beban jalan raya. Data menunjukkan volume angkutan barang pada Januari–Mei 2026 naik 2,02 persen dibanding periode yang sama 2025, dari 312.169,979 ton menjadi 318.481,832 ton.
Anne menegaskan bahwa penguatan layanan di Sumatera Utara harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan memperkuat efisiensi logistik daerah. “Rel Sumatera Utara lahir dari kebutuhan akses,” ujarnya.