SUMATERA UTARA — Peluncuran global Pajero anyar pekan ini di Tokyo bukan sekadar seremoni. Setelah penghentian produksi Pajero Final Edition pada 2021 dan bertahun-tahun proyeknya mandek, Mitsubishi akhirnya berani menghidupkan kembali salah satu nama paling bersejarah di segmen SUV. Pertanyaannya kini bukan hanya soal desain, melainkan apakah mobil ini bisa membenahi kesalahan masa lalu yang membuatnya kalah populer dari kompetitor di Tanah Air.
Posisi Shinobi di Segmen Body-on-Frame
Di Indonesia, nama Pajero identik dengan mobil dinas era 1990-an dan 2000-an. Ground clearance tinggi, mesin diesel bandel, dan sistem penggerak andal menjadikannya pilihan instansi pemerintah dan perusahaan besar saat itu. Namun kebanggaan itu memudar seiring pergeseran konsumen ke SUV perkotaan yang lebih nyaman dan efisien.
Kini, Mitsubishi ingin mengulang formula sukses itu dengan basis yang lebih modern. Generasi kelima ini adalah model baru sepenuhnya, bukan sekadar facelift dari generasi keempat yang sempat dijual hingga 2021. Pabrikan Jepang itu menyebutnya sebagai salah satu "kebangkitan terpenting" dalam sejarah otomotif Jepang, dan bukan tanpa alasan.
Mengapa Baru Sekarang? Jawaban atas Penundaan Bertahun-tahun
Jalan menuju peluncuran ini tidak mudah. Setelah Pajero generasi keempat debut pada 2006, Mitsubishi langsung dilanda masalah finansial, kemudian skandal konsumsi bahan bakar, hingga akhirnya bergabung dengan aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi. Sumber daya yang terbatas membuat perusahaan memprioritaskan model terlaris seperti Xpander, Outlander, dan Triton. Proyek Pajero pun berulang kali ditunda—bahkan sempat dianggap tamat setelah pabrik Jepang menutup produksinya pada 2021.
Yang mengubah segalanya adalah permintaan pasar. Segmen SUV body-on-frame global kembali menggeliat, terutama di Asia Tenggara dan Australia. Mitsubishi melihat celah untuk menghadirkan kendaraan yang benar-benar tangguh, bukan sekadar SUV perkotaan yang mengusung tampang gagah.
Pelajaran Harga: Hantu yang Belum Usai
Sejarah menjadi peringatan paling nyata bagi Mitsubishi. Di era kejayaannya, Pajero sulit bersaing karena didatangkan utuh dari Jepang dengan banderol tinggi, sementara konsumen berbondong-bondong beralih ke kendaraan yang lebih ramah di kantong. Reputasi tangguh saja tidak cukup jika harganya selangit.
Untuk pasar Indonesia, belum ada kepastian mengenai spesifikasi dan harga resmi. Jika Mitsubishi kembali menerapkan strategi CBU murni, risiko kegagalan yang sama bisa terulang. Berbeda dengan Toyota Fortuner yang sudah diproduksi lokal, Pajero baru harus menawarkan nilai lebih agar pantas dibanderol di atas Rp 500 juta—jika tidak, para penggemar setia akan kembali berpaling ke pilihan yang lebih realistis.
Kesimpulan: Antara Nostalgia dan Kebutuhan Harian
Kembalinya Pajero adalah kabar gembira bagi mereka yang merindukan SUV bertenaga, mampu melibas medan berat, dan memiliki pedigree off-road. Namun sebelum menandatangani check, penting untuk menunggu detail lengkap yang akan diumumkan untuk pasar Asia Tenggara, termasuk konfigurasi mesin diesel yang konon tetap dipertahankan, sistem penggerak Super Select 4WD, serta fitur keselamatan modern yang menjadi standar wajib di kelasnya.
Untuk saat ini, Pajero baru baru saja menggelar debut global. Apakah ia akan menjadi raja jalanan kembali atau hanya menjadi koleksi nostalgia—itu sangat tergantung pada keputusan Mitsubishi dalam menyusun strategi harga dan perakitan lokal. Satu hal yang pasti: penggemar beratnya sudah cukup lama menunggu dan berharap kali ini tidak ada kompromi.