TAPANULI SELATAN — Satu-satunya akses penghubung warga di Kampung Cemara dan Kampung Malako, Desa Bandar Tarutung, Kecamatan Angkola Sangkunur, putus total. Jembatan darurat sepanjang tujuh meter dengan lebar lima meter ambrol diterjang banjir bandang yang melanda wilayah itu, Kamis (21/5) lalu.
Kepala Desa Bandar Tarutung, H. Sulhan Sihombing, memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Seluruh warga yang sempat mengungsi kini telah kembali ke rumah masing-masing.
Lumpur Setinggi Satu Meter Tutupi Jalan Utama
Banjir yang mulai surut menyisakan kerusakan parah di sejumlah titik. Di Kampung Malako, material lumpur menutupi ruas jalan utama dengan ketebalan mencapai satu meter. “Selain jembatan putus di Cemara, lumpur yang menutupi ruas jalan lumayan tebal, ada yang mencapai satu meter seperti di Kampung Malako,” ujar Sulhan kepada ANTARA, Jumat (22/5).
Warga kini bergotong royong membersihkan material lumpur yang terbawa banjir. Namun, proses pembersihan berjalan lambat karena akses alat berat belum bisa masuk ke lokasi terdampak.
Tanggul Jebol, Aliran Baru Sungai Batang Toru Melebar hingga 50 Meter
Kepala Desa Bandar Tarutung mengungkapkan, kondisi daerahnya kini semakin rentan banjir. Penyebab utamanya adalah sedimentasi tinggi di bantaran Sungai Batang Toru. “Jangankan berjam-jam, sebentar saja turun hujan lebat, permukaan Sungai Batang Toru cepat naik lalu meluap dan merendam permukiman warga,” katanya.
Parahnya lagi, tanggul sungai yang mengarah ke permukiman warga jebol. Air bah kemudian membentuk aliran baru menyerupai anak sungai dengan lebar lebih dari 50 meter. Aliran baru ini langsung mengarah ke perkampungan warga dan memperparah genangan.
Warga Desak Normalisasi Sungai agar Banjir Tak Terulang
Pemerintah desa mendesak pemerintah kabupaten untuk segera melakukan normalisasi sedimentasi di Sungai Batang Toru. “Kami berharap pemerintah segera melakukan normalisasi sedimentasi Sungai Batang Toru guna mencegah banjir terus berulang dan mengancam keselamatan warga,” tegas Sulhan.
Jembatan darurat yang ambrol itu sebelumnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat pascabanjir bandang pada 25 November 2025 lalu. Kini, warga kembali harus berjuang membangun akses darurat baru sambil menunggu bantuan dari pemerintah.