SUMATERA UTARA — Pengguna smartphone di Amerika Serikat semakin enggan mengganti perangkat mereka dalam waktu singkat. Sebuah survei dari Reviews.org menemukan rata-rata masa pakai HP kini mencapai 29 bulan, sementara survei Allstate mencatat hampir separuh pengguna bertahan lebih dari tiga tahun. Angka ini kontras dengan era satu dekade lalu, ketika upgrade tahunan dianggap biasa.
HP Masih Berfungsi Baik, Harga Semakin Mahal
Salah satu alasan utama pengguna menunda upgrade adalah perangkat lama yang masih berfungsi. Seorang responden mengaku memakai iPhone 13 selama lebih dari empat tahun tanpa niat menggantinya. Kapasitas baterai maksimalnya memang turun ke 80%, tetapi ponsel tidak pernah mengalami crash parah atau mati mendadak seperti model sebelumnya.
Di sisi lain, harga smartphone terus meroket. iPhone 17 dan Google Pixel 10 dibanderol mulai 799 dolar AS (sekitar Rp13,2 juta), sementara Samsung Galaxy S26 dibuka dari 899,99 dolar AS (sekitar Rp14,8 juta). Dengan kondisi seperti ini, mempertahankan HP yang masih layak pakai menjadi pilihan paling masuk akal bagi banyak konsumen.
Fitur AI Tak Lagi Jadi Magnet Upgrade
Produsen seperti Apple, Samsung, dan Google kini mengandalkan fitur AI untuk mendorong penjualan. Namun, data menunjukkan strategi ini kurang ampuh. Survei CNET pada 2025 mengungkap hanya 11 persen pengguna di AS yang upgrade karena fitur AI, turun dari 18 persen tahun sebelumnya. Sekitar 29 persen responden bahkan mengaku tidak tertarik atau tidak menganggap fitur AI berguna.
Banyak pengguna menilai fitur seperti pembuatan gambar, alat menulis, atau asisten suara yang lebih pintar justru menjadi pengganggu, bukan nilai tambah. Kekhawatiran terhadap dampak lingkungan, keamanan data, dan implikasi sosial dari teknologi AI juga turut mengurangi minat. “Saya lebih memilih menunggu sampai hype AI mereda dan produsen menyadari mayoritas pengguna tidak peduli,” ujar salah satu responden dalam survei tersebut.
Inovasi yang Kurang Greget, Harga yang Kian Mencekik
Perbedaan antara generasi terbaru dengan pendahulunya dinilai semakin tipis. Peningkatan chip atau kualitas kamera tidak lagi semenarik kehadiran kamera depan pertama kali di iPhone 4, Siri di iPhone 4S, atau perubahan desain total di iPhone X. Inovasi seperti ponsel lipat juga belum berhasil menarik minat mayoritas konsumen.
Kombinasi antara harga yang terus naik, fitur baru yang kurang revolusioner, dan ketahanan perangkat yang semakin baik membuat siklus upgrade melambat. Apple sendiri mendukung model iPhone hingga sekitar tujuh tahun, memberikan jangka waktu panjang sebelum pengguna benar-benar dipaksa mengganti perangkat karena faktor usang yang direncanakan (planned obsolescence).
Fenomena ini bukan hanya terjadi di AS. Dengan daya beli yang lebih terbatas dan pilihan produk yang semakin beragam, pengguna HP di Indonesia pun mulai menunjukkan kecenderungan serupa: menahan ponsel lebih lama, menunggu alasan yang benar-benar kuat untuk mengeluarkan uang lebih.