SUMATERA UTARA — Keberhasilan uji terbang ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan penerbangan komersial berbasis baterai. Heart Aerospace mencatat X1 mencapai ketinggian 1.100 kaki selama pengujian. Seluruh manuver, dari lepas landas hingga mendarat, sepenuhnya bergantung pada daya baterai.
Pencapaian ini langsung menarik perhatian eksekutif United Airlines dan Air Canada. Kedua maskapai tersebut dikabarkan tertarik menambah armada pesawat listrik ke dalam layanan mereka.
Biaya Operasional Jadi Sorotan Utama
Klaim konsumsi listrik yang rendah menjadi nilai jual utama Heart Aerospace. Dengan harga bahan bakar jet yang terus berfluktuasi, efisiensi biaya ini berpotensi mengganggu pasar penerbangan jarak pendek.
Perusahaan menegaskan penghematan tidak hanya berasal dari selisih harga listrik dan avtur. Motor listrik memiliki biaya perawatan lebih murah dan tingkat keandalan lebih tinggi dibanding mesin turboprop. Hal ini secara langsung akan memperbaiki neraca keuangan maskapai.
Jadwal Komersial dan Target Jangkauan ES-30
Setelah X1, Heart Aerospace berencana meluncurkan model produksi bernama ES-30. Pesawat ini dirancang sebagai fixed-wing berkapasitas 30 kursi dengan konfigurasi hybrid. Targetnya, ES-30 melayani rute-rute regional yang selama ini dioperasikan oleh turboprop seperti Embraer ERJ.
Untuk mode full listrik, ES-30 ditargetkan memiliki jangkauan 125 mil atau sekitar 200 kilometer. Jika menggunakan mesin hybrid, jangkauannya bisa diperpanjang hingga 500 mil atau sekitar 800 kilometer. Ini membuatnya relevan untuk konektivitas antar kota yang lebih jauh.
Target Layanan dan Rencana Autonomi
Heart Aerospace membidik ES-30 mulai beroperasi secara komersial pada 2031. Namun, tenggat waktu tersebut dinilai ambisius mengingat standar pengembangan dan sertifikasi pesawat terbang yang sangat ketat.
Perusahaan memiliki visi jangka panjang untuk mengoperasikan ES-30 secara otonom. Meski pada tahap awal pesawat akan tetap diawaki satu pilot, pengembangan teknologi otonom akan menjadi fokus utama ke depannya.
Persaingan di Era Baru Penerbangan
Heart Aerospace tidak sendirian dalam perlombaan ini. Dekade mendatang akan diramaikan sejumlah startup yang menawarkan visi penerbangan masa depan, termasuk Boom Supersonic, Harbour Air, ZeroAvia, dan Rolls-Royce.
Meski demikian, masa depan pesawat listrik tetap bergantung pada satu faktor kunci: inovasi teknologi baterai. Agar pesawat semacam ES-30 bisa terbang lebih jauh dengan muatan lebih banyak, baterai harus menjadi jauh lebih padat energi dan ringan dibandingkan teknologi lithium-ion yang tersedia saat ini.