SUMATERA UTARA — Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu meminta Chery dan regulator tidak berhenti pada kesimpulan awal soal penyebab kebakaran Chery Tiggo Cross CSH. Menurutnya, insiden berulang pada model yang sama harus ditelisik lebih dalam, bukan sekadar dialihkan ke faktor eksternal.
Kronologi Dua Insiden Kebakaran di Model yang Sama
Insiden pertama terjadi pada akhir Maret 2026 di tol Jakarta. Saat itu, Chery mengumumkan hasil investigasi tidak menemukan komponen kendaraan yang bermasalah. Perusahaan menduga ada material eksternal yang memicu api, namun belum menyebutkan jenisnya.
Kasus kedua terjadi di Bandung pada 4 Juli 2026. Dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (9/7), Chery menyatakan penyebab kebakaran adalah kain perca yang tertinggal di area lower arm, tepat di dekat exhaust manifold. "Hal tersebut memicu terjadinya percikan api yang menyebabkan kebakaran," tulis Chery.
Pabrikan menegaskan tidak ada indikasi kegagalan pada komponen, suku cadang, maupun sistem kendaraan dalam kedua insiden tersebut.
Pirolisis Kain Perca Masuk Akal, Tapi Ada yang Janggal
Yannes mengakui penjelasan teknis soal kain perca di exhaust manifold bisa diterima. Komponen tersebut bekerja pada temperatur sangat tinggi, sehingga material mudah terbakar bisa mengalami pirolisis dan memercikkan api jika menempel dalam waktu lama.
"Tetapi, karena insiden serupa terjadi pada model yang sama, termasuk pada unit yang masih dalam proses distribusi, penjelasan internal pabrikan saja sebaiknya belum menjadi akhir dari proses evaluasi," ujar Yannes saat dihubungi, Selasa (14/7).
Ia menekankan pentingnya mengidentifikasi apakah penyebabnya murni human error pada proses perakitan, pre-delivery inspection, atau servis. Atau justru ada faktor lain yang ikut berkontribusi, seperti desain ruang mesin dan sistem heat shield yang kurang optimal terhadap masuknya material asing.
Regulator Harus Turun Tangan, Bukan Cuma Percaya Klaim Pabrikan
Yannes mendorong investigasi lanjutan oleh regulator atau lembaga independen yang memiliki kewenangan. Menurutnya, hasil investigasi pihak ketiga akan memiliki kredibilitas lebih kuat ketimbang laporan internal pabrikan.
"Tujuannya bukan untuk mencari pihak yang bersalah, melainkan memastikan akar penyebab insiden dapat diidentifikasi secara menyeluruh," kata dia. Langkah perbaikan bisa berupa penyempurnaan SOP inspeksi, peningkatan quality control, hingga evaluasi desain jika diperlukan.
Pada akhirnya, setiap insiden keselamatan harus menjadi momentum bagi seluruh pabrikan otomotif untuk memperkuat standar kualitas produk dan layanan purnajual. Konsumen berhak mendapat jaminan bahwa kendaraan yang dipasarkan maupun diservis telah memenuhi standar keselamatan yang dapat dipertanggungjawabkan.