Pencarian

Pemkab Mandailing Natal Siapkan Lahan 4 Hektare di Desa Hutatonga Jadi Pilot Project Pisang Kepok Bebas Fusarium, Gandeng 3 Akademisi UMA

Kamis, 09 Juli 2026 • 18:53:31 WIB
Pemkab Mandailing Natal Siapkan Lahan 4 Hektare di Desa Hutatonga Jadi Pilot Project Pisang Kepok Bebas Fusarium, Gandeng 3 Akademisi UMA
Bupati Mandailing Natal tinjau lahan 4 hektare di Desa Hutatonga untuk pilot project pisang kepok bebas fusarium.

MADINA — Lahan percontohan itu tidak hanya akan menjadi kebun produksi. Bupati Saipullah Nasution merancang kawasan tersebut sebagai destinasi agrowisata berbasis edukasi dan kuliner.

Kombinasi Kebun, Kolam, dan Saung Kuliner Pisang

“Nantinya kita kombinasikan, ada kolam, pondok, hingga kuliner berbasis pisang. Bisa dibuat saung-saung untuk tempat masyarakat menikmati produk olahan pisang,” ujar Saipullah dalam keterangan yang diterima Antara, Kamis.

Menurutnya, pengembangan tidak berhenti pada buah segar. Pemkab Madina juga mendorong industri olahan seperti tepung, kue, dan aneka makanan lain yang bisa diproduksi pelaku UMKM. Upaya pendaftaran Indikasi Geografis untuk pisang kepok lokal juga tengah diurus.

Mengapa Butuh 20 Tahun Pemulihan Lahan?

Pemilihan Desa Hutatonga sebagai lokasi pilot project bukan tanpa alasan. Prof. Suswati, akademisi UMA yang terlibat, mengatakan kondisi tanah di desa itu lebih sehat dibanding wilayah lain di Madina.

“Risiko penyakit layu fusarium maupun penyakit darah memiliki masa pemulihan hingga 20 tahun, sehingga pemilihan lahan menjadi sangat penting,” katanya.

Untuk meminimalkan risiko, perbanyakan bibit dilakukan melalui metode kultur jaringan tanpa bunga jantan. Langkah ini untuk mencegah penularan penyakit oleh serangga.

Bibit Tahan Fusarium dan Plasma Nutfah Asli

Pada tahap awal, jenis yang ditanam adalah pisang kepok kuning. Tim akademisi juga tengah menelusuri indukan plasma nutfah yang sesuai dengan varietas asli Mandailing Natal sebelum terdampak fusarium.

Prof. Zulkarnain Lubis menyebut pihaknya sedang mengembangkan bibit pisang kepok yang tahan terhadap penyakit layu. Bibit berumur dua hingga tiga bulan nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat.

“Kami juga akan melakukan sosialisasi cara budidaya agar terhindar dari penyakit. Selama lebih dari 20 tahun, daerah ini kehilangan potensi besar dari komoditas pisang kepok,” ujarnya.

Konsep Zero Waste: Semua Bagian Tanaman Bernilai Ekonomi

Assoc Prof. Syahbudin Hasibuan menjelaskan kebun percontohan ini mengusung prinsip zero waste. Seluruh bagian tanaman pisang—dari batang, daun, hingga buah—akan dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Dari sisi pemasaran, peluang pisang kepok segar dinilai masih terbuka lebar. Tren kafe dan kedai kopi di daerah maupun tingkat provinsi menjadi pasar potensial yang bisa disasar petani nantinya.

Dalam peninjauan lahan, Bupati Saipullah didampingi Asisten I M. Sahnan Pasaribu, Kepala Dinas Pertanian Taufik Zulhandra Ritonga, Kepala Dinas Pariwisata Syukur Soripada Nasution, Kepala Dinas Perikanan Alinafiah, Kepala Dinas Kominfo M. Syail Lubis, serta Camat Panyabungan Barat Ainannur.

Bagikan
Sumber: sumut.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks