SAMOSIR — Wakil Bupati Samosir, Ariston Tua Sidauruk, yang hadir langsung di puncak acara, mengapresiasi tingginya antusiasme para peserta. Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan pesta adat ini membuktikan bahwa ikatan persaudaraan marga Sagala Raja tetap kokoh meski para anggotanya telah tersebar di berbagai penjuru Tanah Air dan luar negeri.
“Pesta Bolon ini bukan sekadar ajang berkumpul, tetapi menjadi momentum mempererat tali persaudaraan sekaligus melestarikan adat dan budaya Batak agar tetap diwariskan kepada generasi penerus,” ujar Ariston dalam sambutannya.
Mangulosi Jadi Simbol Sinergi Adat dan Pemerintahan
Puncak acara ditandai dengan prosesi adat mangulosi, di mana panitia menyerahkan ulos kepada Wakil Bupati Samosir dan anggota DPRD. Dalam tradisi Batak, mangulosi bukan sekadar pemberian kain, melainkan simbol penghormatan, doa, dan harapan agar hubungan harmonis antara keluarga besar Sagala Raja dengan Pemerintah Kabupaten Samosir terus terjalin.
Ariston berharap seluruh anggota PSBBI mampu menjalankan amanah organisasi dengan baik dan tetap berkontribusi nyata dalam pembangunan Kabupaten Samosir tanpa meninggalkan akar budaya. “Kekompakan organisasi menjadi modal penting mempertahankan nilai-nilai adat dan kearifan lokal,” tambahnya.
Dampak Ekonomi dari Kedatangan Ribuan Perantau
Anggota DPRD Kabupaten Samosir, Pantas Lasidos Limbong, menilai Pesta Bolon membawa manfaat ganda. Selain memperkuat hubungan kekeluargaan antar keturunan Sagala Raja, kedatangan para perantau dari berbagai daerah dinilai mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat melalui peningkatan kunjungan ke Samosir selama kegiatan berlangsung.
Acara itu turut dihadiri Anggota DPRD Jhonny Sagala, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Samosir Immanuel Sitanggang, Camat Sianjur Mula-mula, serta sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah dan tokoh adat. Kehadiran mereka menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap upaya pelestarian budaya Batak yang diinisiasi oleh komunitas marga.
Wakil Bupati pun mengajak seluruh keluarga besar Sagala Raja untuk terus menjadi garda terdepan dalam menjaga identitas budaya sekaligus mendukung program pembangunan daerah. Sinergi antara pemerintah dan komunitas adat dinilai menjadi kunci agar tradisi tetap hidup dan relevan bagi generasi muda Batak di masa mendatang.