SUMATERA UTARA — Setelah mengalami penurunan penjualan selama beberapa tahun terakhir, Tesla akhirnya menunjukkan tren positif. Pabrikan mobil listrik asal Amerika Serikat itu melaporkan pengiriman sebanyak 480.000 unit kendaraan secara global pada kuartal kedua (Q2) 2026. Angka ini menandai kenaikan 25 persen dibandingkan Q2 2025 dan menjadi pencapaian pertumbuhan tahun-ke-tahun pertama dalam dua tahun terakhir.
Model 3 dan Model Y Masih Jadi Tulang Punggung
Mayoritas pengiriman Tesla masih didominasi oleh dua model andalannya. Model 3 dan Model Y menyumbang sekitar 468.000 unit dari total pengiriman. Sementara itu, model lain seperti Cybertruck dan Model X hanya berkontribusi sebanyak 12.000 unit.
Meskipun sempat menjadi sorotan saat peluncurannya, Cybertruck masih belum berhasil menarik minat konsumen secara massal. Pencapaiannya lebih banyak terlihat di lingkaran internal perusahaan milik Elon Musk.
Mengapa Penjualan Tiba-tiba Melonjak?
Pertanyaan besarnya, apa yang mendorong lonjakan ini? Apakah ada perubahan sikap publik terhadap CEO Elon Musk? Jawabannya, tidak juga. Dalam beberapa pekan terakhir, Musk masih aktif membagikan unggahan kontroversial di platform X, termasuk yang dianggap mempromosikan kekerasan terhadap imigran.
Faktor eksternal lah yang lebih berperan. Sejak Februari 2026, konflik bersenjata di Iran telah memicu lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) global. Meskipun harga sempat sedikit turun, periode Q2 2026 merupakan masa di mana harga BBM berada di titik tertinggi. Kondisi ini mendorong konsumen beralih ke kendaraan listrik sebagai alternatif yang lebih hemat.
Ekspansi di Eropa dan Dukungan Subsidi
Kenaikan harga BBM juga membuka peluang baru bagi Tesla di Eropa. Perusahaan baru saja mengumumkan perluasan besar-besaran Gigafactory di Berlin, Jerman. Target produksi dinaikkan menjadi 7.500 kendaraan per minggu pada Oktober 2026.
Jerman sendiri baru saja memperkenalkan program subsidi baru untuk mendorong adopsi kendaraan listrik. Program ini memberikan bantuan hampir USD 7.000 (sekitar Rp 115,5 juta) bagi rumah tangga berpenghasilan rendah untuk membeli atau menyewa mobil listrik.
Stok Melimpah Jadi Modal
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah ketersediaan stok. Pada Q1 2026, Tesla memproduksi 50.000 kendaraan lebih banyak dari yang berhasil dikirimkan. Artinya, saat harga BBM melonjak dan konsumen mulai mencari mobil listrik, Tesla memiliki banyak unit siap kirim untuk memenuhi permintaan yang mendadak tersebut.
Nasib Saham Justru Berbanding Terbalik
Meskipun kabar pengiriman ini positif, pasar saham justru bereaksi sebaliknya. Saham Tesla dilaporkan anjlok sekitar tujuh persen setelah pengumuman tersebut. Belum jelas apakah tren pertumbuhan ini akan bertahan, terutama jika faktor eksternal seperti harga BBM dan konflik global mulai mereda.