SUMATERA UTARA — Dedik Setiawan bukan sekadar pemain. Selama sepuluh tahun, ia menjadi representasi hidup dari karakter Arek Malang di lapangan hijau: ngeyel, pantang menyerah, dan punya cinta berlebih terhadap lambang Singo Edan. Kini, babak panjang itu harus ditutup.
Empat Gelar Piala Presiden dan Satu Luka Kanjuruhan
Catatan Dedik di Arema FC terukir dengan tinta emas. Ia menjadi bagian dari generasi emas yang mempersembahkan empat gelar juara Piala Presiden—rekor yang sulit ditandingi klub lain di Indonesia.
Namun, ia juga saksi bisu periode paling kelam klub. Dedik ikut berdiri tegak merangkul tim yang hancur pasca-Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022. Ia ada di sana, ikut menangis, lalu ikut bangkit.
Karier di Timnas: Runner-up Piala AFF 2020
Kelihaian Dedik di kotak penalti tak hanya diakui level domestik. Ia beberapa kali dipercaya membela Tim Nasional Indonesia. Puncaknya, ia menjadi bagian skuad Garuda yang bertarung hingga final dan meraih predikat runner-up Piala AFF 2020.
Manajemen: "Dedik Telah Bertransformasi Jadi Bagian Sejarah"
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, tak bisa menyembunyikan rasa respeknya. “Dedik Setiawan adalah sosok yang tumbuh bersama Arema FC. Hampir sepuluh tahun ia memberikan tenaga, pikiran, dan hatinya untuk klub ini,” ujarnya.
“Tidak banyak pemain yang mampu menunjukkan loyalitas dan dedikasi seperti yang telah diperlihatkan Dedik,” tambah pria yang akrab disapa Inal ini.
Pintu Mes Tetap Terbuka, Doa untuk Klub Baru
Manajemen menegaskan perpisahan di atas kertas kontrak tidak akan merusak hubungan emosional yang sudah mengakar. Pintu Arema akan selalu terbuka untuk Dedik.
“Kami mendoakan agar Dedik Setiawan meraih kesuksesan bersama klub barunya nanti. Semoga ia terus berkembang dan menjaga semangat juang Arek Malang,” ujar Yusrinal.
Hari ini, jersi nomor depan di loker Arema resmi kosong. Selamat bertualang di tempat baru, sang ikon.