MEDAN — Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara mencatat lonjakan signifikan kunjungan wisman pada Maret 2026. Angka itu melesat 43,40 persen secara tahunan (year-on-year) dibanding Maret 2025, menandai pemulihan sektor pariwisata yang lebih solid dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Meski secara bulanan (month-to-month) terjadi koreksi tipis 1,01 persen dari Februari 2026 yang mencatat 24.851 kunjungan, Kepala BPS Sumut Asim Saputra menilai performa kuartal pertama tetap stabil. “Ini menunjukkan kinerja pariwisata yang jauh lebih baik,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).
Malaysia Mendominasi, Tiongkok Mulai Bangkit
Malaysia masih menjadi pasar utama dengan kontribusi 39,73 persen dari total wisman. Singapura menyusul di posisi kedua sebesar 5,10 persen, disusul Tiongkok 3,24 persen, Jerman 1,91 persen, dan Australia 1,47 persen.
Namun, kunjungan dari Malaysia dan Singapura justru turun secara bulanan, masing-masing 16,58 persen dan 23,80 persen. Sebaliknya, wisman dari Jerman melonjak 31,28 persen, Australia naik 24,91 persen, dan Tiongkok tumbuh 12,55 persen.
Okupasi Hotel Ikut Terdongkrak, Hotel Bintang 5 Paling Laris
Peningkatan kunjungan juga mendorong Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Sumatera Utara. Pada Maret 2026, TPK hotel berbintang mencapai 41,58 persen, naik dari 40,67 persen pada bulan sebelumnya.
Hotel bintang 5 mencatat okupansi tertinggi sebesar 53,22 persen. Sementara itu, hotel non-bintang mengalami kenaikan pesat dari 21,83 persen menjadi 26,38 persen. “Peningkatan TPK hotel non-bintang yang naik 4,55 poin secara bulanan ini dipengaruhi oleh periode libur Lebaran,” jelas Asim.
Secara total, TPK gabungan seluruh hotel di Sumatera Utara meningkat dari 28,54 persen menjadi 31,82 persen. Angka ini menjadi indikator bahwa sektor perhotelan mulai menikmati efek domino dari pemulihan pariwisata.
Apa yang Mendorong Lonjakan Wisman dari Negara Jauh?
Belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pariwisata Sumut mengenai faktor spesifik di balik lonjakan wisman Eropa dan Australia. Namun, tren ini bisa dikaitkan dengan promosi destinasi unggulan seperti Danau Toba yang mulai menarik minat wisatawan jarak jauh, terutama setelah perbaikan infrastruktur akses bandara dan pelabuhan.
Jika tren ini berlanjut, Sumatera Utara berpotensi mengurangi ketergantungan pada pasar Malaysia dan memperluas pangsa wisman dari kawasan non-Asia Tenggara. Data BPS selanjutnya pada April 2026 akan menjadi indikator apakah pertumbuhan ini bersifat musiman atau struktural.