TAKENGON — Zaini, pakar kopi Gayo yang bernaung di Yayasan Coffee Learning Center, mengungkapkan bahwa dirinya diundang ke Sumatera Utara untuk melihat, menganalisis, dan mempraktikkan pemangkasan kopi. Praktik berlangsung di Sidikalang, wilayah yang masuk Kabupaten Dairi.
Permintaan datang dari satu perusahaan eksportir kopi asal Medan yang memiliki lahan luas di sana. Perusahaan itu ingin kopi miliknya diperlakukan sesuai kebutuhan pertanian modern dan komersial.
Kopi Dibiarkan Tumbuh Hingga Beberapa Meter
Selama beberapa hari di Sidikalang, Zaini mempraktikkan pemangkasan pada tanaman kopi yang dibiarkan tumbuh hingga beberapa meter. Kondisi itu dinilai tidak ideal untuk produksi komersial.
Ia tidak bergerak sendiri. Zaini membawa Ardi Wongkal, pakar pangkas kopi Arabika Gayo yang banyak membagikan cara pangkas kopi di media sosial.
"Kita diminta uji nyali di Medan," kata Zaini kepada lintasgayo.
Permintaan Menangani Lahan dari Penanaman Hingga Pemangkasan
Ke depan, Zaini diminta menangani kopi di Sidikalang mulai dari penanaman hingga pemangkasan. Lahan yang ditangani tergolong luas, sehingga kebutuhan tenaga terampil menjadi persoalan tersendiri.
Zaini berharap akan banyak membawa tenaga terampil kopi dari Gayo ke Sumatera Utara. Namun ia mewanti-wanti agar tenaga tersebut siap tempur dan mau menetap dalam waktu lama di sana.
"Enti kejep kejep telpon, nye kunei pake umahe, nge mangan ke Ama," kata Zaini terbahak.
Jalur Baru Tenaga Kopi Gayo ke Sumut
Gayo selama ini dikenal sebagai sentra kopi Arabika dengan tradisi budidaya yang mapan. Keahlian pemangkasan menjadi salah satu faktor penentu produktivitas dan mutu biji.
Permintaan dari eksportir Medan menunjukkan keahlian itu mulai dilirik pengelola lahan di luar Aceh. Bagi Zaini, peluang ini hanya berguna jika tenaga terampil Gayo benar-benar siap bekerja jangka panjang, bukan sekadar datang untuk praktik singkat.