SUMATERA UTARA — Luke Evans membintangi drama lima episode "The Party" untuk ITV, adaptasi novel thriller psikologis karya Elizabeth Day yang juga ia produseri. Serial yang tayang di ITVX itu menyoroti kelas sosial, seksualitas tersembunyi, dan sifat cinta romantis maupun platonis. Evans juga baru menyelesaikan lima bulan pentas Broadway sebagai Frank-N-Furter yang mengantarnya ke nominasi Tony.
Aktor asal Wales itu memang dikenal luwes berpindah antara blockbuster Hollywood dan drama Inggris berskala lebih kecil. Setelah trilogi "The Hobbit" dan versi live-action "Beauty and the Beast" bersama Emma Watson, Evans kini menempatkan "The Party" sebagai proyek terbarunya di layar kaca.
Premis dan Perubahan dari Novel
Serial lima episode ini diadaptasi dari novel psikologis Elizabeth Day dan diproduseri langsung oleh Evans. ITV Studios memegang hak penjualan global, sementara penonton di Inggris sudah bisa menyaksikannya lewat ITVX.
Sarah Solemani dipercaya mengadaptasi naskah sekaligus memerankan Lucy, istri karakter Evans, Martin. Evans mengaku kali pertama menemukan novel Day saat masa lockdown pandemi Covid-19 dan berperan besar membawa cerita itu ke layar.
Sejumlah perubahan dilakukan dari versi buku. Lucy dibuat hamil, dan hubungan fisik pasangan itu ditampilkan lebih gamblang untuk menegaskan bahwa Martin menjalani kehidupan yang keliru. Perubahan lain: Martin di layar kaca mendekam di penjara, sesuatu yang tidak terjadi dalam novel.
Keputusan Menjadikan Martin Narapidana
Evans menjelaskan alasan di balik perubahan tersebut. Menurutnya, hukuman penjara membuat Martin menanggung harga atas perbuatan orang lain, dan itu meninggalkan bekas yang tidak bisa dihapus.
"Putting him into detention to pay the price for someone else, it's a scar that — he's tarnished for life," kata Evans kepada Variety.
Ia menambahkan, catatan kriminal membuat Martin hidup dengan kesadaran bahwa ia tidak bersalah. Bagi Evans, beban itu sangat besar dan menjadi inti dari ketegangan drama.
Kedekatan Evans dengan Karakter Martin
Dalam sesi wawancara panjang lewat Zoom, Solemani banyak bertanya soal masa kecil Evans. Aktor itu mengaku bisa memahami Martin karena ia gay dan berasal dari latar kelas pekerja.
Evans menyebut dirinya sering berada di situasi asing yang membuatnya tidak nyaman, lalu bertahan dengan mengamati, belajar, dan beradaptasi. Pola itu, katanya, ia jalani sepanjang hidup dan itulah esensi Martin. Latar sebagai anak tunggal dari keluarga religius juga ikut diserap Solemani ke dalam cerita.
Peluang Musim Kedua
Elizabeth Day telah menulis buku lanjutan berjudul "One of Us" yang kembali menyoroti karakter-karakter ini. Evans menyebut serialnya terbuka untuk dilanjutkan.
"There is closure for sure within this arc, of course there needs to be, but there are lots of unanswered questions," ujarnya.
Novel "One of Us" terbit menjelang akhir masa syuting dan memberi banyak ide baru. Evans belum bisa memastikan apakah proyek lanjutan akan terwujud.
Soal Kembali sebagai Bard di The Hunt for Gollum
Evans sempat ditanya soal kemungkinan kembali memerankan Bard the Bowman di film arahan Andy Serkis, "The Hunt for Gollum". Ia juga menyinggung lima bulan pentas Broadway sebagai Frank-N-Furter di "The Rocky Horror Picture Show" yang berbuah nominasi Tony.
Perihal Bard, Evans tidak memberi jawaban pasti. Ia hanya menegaskan bahwa dirinya sudah menjadi gay yang terbuka sebelum karier filmnya dimulai, sehingga identitas itu tidak pernah ia sembunyikan.
Mengapa Cerita Soal Relasi Pria Kini Ramai
Evans menilai serial seperti "The Party", "Half Man" karya Richard Gadd, dan "Tip Toe" arahan Russell T Davies muncul karena ada kebutuhan untuk membahas relasi pria dan homofobia. Ia menyebut kemajuan kesetaraan di Inggris sudah jauh, tetapi belum sepenuhnya aman.
"What we have right now is not safe. You only have to look at the politics, and you have to look at the parties, and some of them, what they're saying, it's scary," kata Evans.
Ia menilai wacana yang mengancam eksistensi dan identitas seseorang bisa membuat orang memilih menyembunyikan diri. Di industri akting, Evans mengaku tahu betul hal itu masih terjadi.
Bagi penonton Indonesia, "The Party" menambah deret drama Inggris bertema kelas dan identitas yang belakangan mudah diakses lewat platform streaming global. Nama Luke Evans sendiri tetap lekat di ingatan penggemar fantasi Tanah Air lewat perannya sebagai Bard di trilogi "The Hobbit".