ASAHAN — Ketua GM GRIB Jaya Asahan, Syafrizal Ritonga, menilai operasi modifikasi cuaca yang terjadi pada Senin (17/8/2026) siang telah berdampak langsung terhadap tingginya intensitas hujan di daerahnya. Ia mendesak pemerintah daerah berani mengambil sikap tegas terhadap kegiatan yang dinilainya membawa risiko bencana.
Menurut Syafrizal, dampak hujan deras sudah mulai dirasakan warga, terutama di kawasan pesisir. Sebagian wilayah mengalami genangan akibat intensitas hujan yang tinggi bersamaan dengan naiknya gelombang pasang laut.
“Ini akan kita suarakan dan kita meminta agar Pemkab Asahan berani menolak keras operasi pembuatan hujan buatan di daerah kita. Gak mungkin Pemkab gak tau, siapa yang melakukan operasi ini,” ujarnya kepada media.
Risiko Bencana di Wilayah Hulu dan Hilir
Syafrizal menekankan bahwa Kabupaten Asahan memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi. Wilayah hulu seperti Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Bandar Pulau, dan Aek Songsongan merupakan zona rawan tanah longsor. Sementara di hilir, Kecamatan Tanjung Balai dan Silau Laut adalah kawasan pesisir yang rentan banjir rob.
“Apalagi ketika intensitas hujan yang tinggi ditambah datangnya pasang laut atau banjir air rob, maka wilayah ini sewaktu-waktu dapat tenggelam,” katanya.
Kekhawatiran Dampak Kimia dan Banjir Susulan
Operasi TMC umumnya menggunakan zat kimia seperti natrium klorida, perak iodida, dan es kering untuk memicu kondensasi awan. Syafrizal menyoroti risiko lingkungan dari penggunaan bahan kimia tersebut, mulai dari pencemaran tanah dan air hingga potensi hujan asam.
Ia juga mengingatkan bahwa risiko terbesar dari hujan buatan adalah meningkatnya potensi banjir dan tanah longsor. Hal ini dinilai kontradiktif dengan upaya mitigasi bencana yang sedang gencar dilakukan pemerintah daerah.
Desakan Evaluasi Menyeluruh
Syafrizal meminta Pemkab Asahan melihat persoalan ini secara jernih, terlebih daerahnya tengah berkomitmen membantu pemulihan bencana di Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh, dengan nilai bantuan mencapai Rp 33 miliar.
“Pemkab Asahan harus bisa melihat hal ini secara jernih, Pemerintah Pusat sampai hari ini tidak mampu menangani pemulihan bencana di daerah Aceh. Kan kita harus bantu mereka, jadi jangan diam ketika operasi modifikasi cuaca dilakukan di atas daerah kita. Toh, gak ada untungnya buat daerah kita kan,” tandasnya.
Ia berharap suasana perayaan kemerdekaan yang masih melekat tidak terusik oleh dampak buruk dari operasi yang tidak melibatkan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat.
“Suasana perayaan hari kemerdekaan masih sangat melekat di hati kita, jangan sampai curah hujan yang ekstrem ini menjadi kado bagi masyarakat kita,” tutupnya.