Pencarian

Pemkab Madina Siapkan Pola Kemitraan Garap Serai Wangi dan Nilam, Petani Tak Lagi Bekerja Sendiri

Kamis, 13 Agustus 2026 • 16:06:01 WIB
Pemkab Madina Siapkan Pola Kemitraan Garap Serai Wangi dan Nilam, Petani Tak Lagi Bekerja Sendiri
Petani Mandailing Natal mengikuti sosialisasi pengembangan serai wangi dan nilam di Aula Kantor Bupati Madina, Rabu (12/8).

MADINA — Ratusan petani di Mandailing Natal selama ini menggarap serai wangi dan nilam secara tradisional dan mandiri. Akibatnya, biaya produksi membengkak dan hasil yang diperoleh kurang kompetitif di pasar.

Kondisi itulah yang mendorong Pemkab Madina menyiapkan pola kemitraan baru. Petani tidak lagi dibiarkan berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari rantai produksi yang dikelola secara terpadu.

Petani Cukup Sediakan Lahan, Sisanya Dikelola Bersama

Bupati Saipullah Nasution menegaskan, dalam skema yang dirancang, petani tidak dibebani sampai proses pengolahan. Mereka cukup menyediakan lahan, menanam, dan mengelola tanaman.

"Selanjutnya kita bangun sistem yang menangani proses produksi hingga pemasaran," ujarnya saat membuka Sosialisasi Pengembangan Serai Wangi dan Nilam di Aula Kantor Bupati Madina, Rabu (12/8).

Pemerintah dalam hal ini bertindak sebagai fasilitator dan regulator. Pemkab juga membuka keran investasi bagi pihak swasta yang ingin mendukung pengembangan komoditas tersebut.

Mengapa Pola Ini Dianggap Penting?

Saipullah menilai, tanpa kepastian pasar dan pendampingan, petani akan terus kesulitan mengembangkan usaha tani mereka. Padahal, kondisi tanah di Madina dinilai sangat mendukung pertumbuhan serai wangi dan nilam.

Indra Kusuma, peneliti minyak atsiri dari PT Jutarasa Abadi yang dihadirkan dalam sosialisasi, menyebut kunci utama pengembangan kedua tanaman ini bukan terletak pada kesuburan tanah.

"Bukan soal tanahnya. Untuk tanaman serai wangi dan nilam, kuncinya adalah bagaimana kita membudidayakan dengan baik," kata Indra.

Bukan Sekadar Minyak Mentah, Ada Produk Turunan

Pemkab Madina tidak ingin hasil produksi hanya dijual sebagai minyak atsiri mentah. Ada dorongan untuk mengembangkan produk turunan seperti aromaterapi dan sabun agar nilai ekonominya meningkat.

"Kalau sistem ini berjalan dengan baik, masyarakat memiliki kepastian dalam bertani dan berkebun nilam maupun sereh wangi," ujar Saipullah.

Program ini tidak berhenti pada peningkatan produksi semata. Pemkab menargetkan pembangunan ekosistem usaha dari hulu ke hilir secara menyeluruh.

Peran Camat, Kepala Desa, dan Diaspora Madina

Keberhasilan program ini akan menjadi salah satu indikator penilaian kinerja camat dan kepala desa di lapangan. Mereka diminta berperan aktif menyukseskan sosialisasi hingga penanaman.

Pemkab juga menggandeng para perantau asal Madina untuk turut mendukung pendanaan. Harapannya, diaspora di Jakarta, Surabaya, Kalimantan, hingga luar negeri bisa ikut berkontribusi.

"Kita berharap putra-putra daerah yang merantau dapat ikut membantu pendanaan program ini," kata Saipullah.

Plt. Kepala Dinas Pertanian Madina Taufik Zulhandra Ritonga menyebut sosialisasi ini diikuti sejumlah desa dari 14 kecamatan. Penanaman serai wangi dan nilam akan segera dilakukan karena lahan pengembangan telah tersedia.

Follow inisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sumut.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks