MEDAN — Kebiasaan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution memindahkan ruang kerjanya ke Kepulauan Nias dalam beberapa kali kesempatan membuka ruang interpretasi baru di kalangan pengamat kebijakan. Zulfikar Tanjung, wartawan utama dengan pengalaman lebih dari 36 tahun meliput dinamika Pemprov Sumut, melihat pola yang konsisten dari langkah tersebut.
Dalam observasinya, Zulfikar menyebut bahwa kunjungan kerja yang berulang ini diisi dengan agenda pembangunan konkret, bukan sekadar panggung politik. Fokus perhatian pemerintah provinsi selama berkantor di Nias meliputi rekonstruksi ruas jalan, peningkatan layanan pendidikan, pembenahan jembatan, hingga gagasan membangun sistem logistik yang lebih baik untuk wilayah kepulauan.
Bukan Sekadar Kunjungan Simbolis
Zulfikar, yang telah meliput delapan gubernur dan sejumlah penjabat gubernur, menegaskan bahwa keputusan yang terus diulang hampir selalu lahir dari sebuah visi, bukan kebetulan. Menurutnya, Bobby Nasution justru memilih mendatangi wilayah dengan tantangan geografis agar keputusan lahir dari kondisi nyata di lapangan.
"Bagi saya, Bobby Nasution tidak sedang menjadikan Nias sebagai panggung politik. Yang tampak justru sebaliknya," kata Zulfikar dalam tulisannya yang dikutip dari MitaNews, Rabu (5/8/26).
Nias sendiri memiliki posisi historis penting dalam peta pembangunan Sumatera Utara. Pada era Raja Inal Siregar, perhatian terhadap kepulauan ini mendorong dikenalnya Pantai Sorake sebagai destinasi selancar kelas dunia. Kini, langkah Bobby Nasution dinilai menambah babak baru dalam upaya menghadirkan pelayanan negara hingga ke wilayah terluar.
Benang Merah Konektivitas Daratan dan Kepulauan
Yang menarik perhatian Zulfikar, perhatian pemerintah provinsi tidak hanya berhenti di Nias. Di daratan utama Sumatera Utara, arah kebijakan juga mengarah pada peningkatan konektivitas di kawasan Sipiongot yang memiliki posisi penting dalam jaringan antarkabupaten.
Meski belum menyimpulkan keduanya sebagai satu paket kebijakan, Zulfikar melihat adanya pola yang saling terhubung. Di satu sisi, pemerintah memberi perhatian pada wilayah kepulauan. Di sisi lain, penguatan akses di kawasan daratan yang selama ini menghadapi tantangan konektivitas juga terus didorong.
Fondasi Pemerataan yang Mulai Terbaca
Dari pola tersebut, Zulfikar menilai Bobby Nasution tengah berupaya meletakkan fondasi pemerataan pembangunan di Sumatera Utara. Pembangunan diarahkan agar manfaatnya semakin merata dan tantangan geografis tidak lagi menjadi alasan lambatnya pelayanan maupun pembangunan.
Observasi ini masih menunggu konfirmasi dari Kepala Bapperida Sumut H. Dikky Anugerah mengenai kesesuaiannya dengan dokumen perencanaan pembangunan. Konfirmasi juga diupayakan dari Kepala Dinas BMBKCK Sumut Chandra Dalimunthe tentang arah pembangunan konektivitas di kawasan Sipiongot.
"Apabila pembacaan ini sejalan dengan dokumen perencanaan yang disusun pemerintah provinsi, maka langkah Bobby Nasution dapat dibaca sebagai upaya membangun Sumatera Utara dengan perspektif yang lebih menyeluruh," tulis Zulfikar.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya menilai seorang pemimpin dari banyaknya proyek yang diresmikan. Sejarah juga akan melihat apakah ia berhasil memperkecil jarak antardaerah, memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan, dan meletakkan fondasi yang memungkinkan pembangunan bergerak lebih merata.