Pencarian

5 Mahasiswa USU Borong Gelar Juara di Pemilihan Duta Bahasa Sumut 2026, Sabet Terbaik I dan II

Senin, 20 Juli 2026 • 19:59:01 WIB
5 Mahasiswa USU Borong Gelar Juara di Pemilihan Duta Bahasa Sumut 2026, Sabet Terbaik I dan II
Miftahussakdan dan Rani Febrina Br. Surbakti, mahasiswa USU, dinobatkan sebagai Terbaik I Pemilihan Duta Bahasa Sumut 2026.

MEDAN — Panggung Pemilihan Duta Bahasa Sumatera Utara 2026 menjadi ajang pembuktian bagi mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU). Tak sekadar ikut serta, mereka berhasil memborong sejumlah gelar tertinggi, mulai dari Terbaik I, Terbaik II, hingga Duta Bahasa Bertalenta.

Dua mahasiswa USU, Miftahussakdan yang mewakili Tanjungbalai dan Rani Febrina Br. Surbakti yang mewakili Karo, sama-sama dinobatkan sebagai Terbaik I. Sementara itu, Audrey Sulistioningtyas Putri Aliza, perwakilan Medan, meraih Terbaik II. Miftahussakdan juga menyabet gelar Duta Bahasa Bertalenta.

Ajang Pembuktian Generasi Muda di Isu Kebahasaan

Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Kealumnian USU, Prof. Dr. Ir. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si., IPU, menyebut capaian ini sebagai bukti nyata kualitas mahasiswa USU. Menurutnya, mereka mampu menjadi representasi generasi muda yang berprestasi sekaligus peduli pada isu kebahasaan dan kebudayaan.

“Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi USU sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga bahasa, budaya, dan literasi di tengah perkembangan zaman,” sebut Prof. Agus dalam keterangan yang diterima, Senin (14/7/2026).

Perjalanan Panjang Menuju Gelar Duta Bahasa

Bagi Miftahussakdan, yang akrab disapa Sakdan, ajang ini bukan sekadar kompetisi. Ia melihatnya sebagai ruang untuk menyuarakan kepedulian terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah di tengah arus globalisasi. Semangat itu ia pegang teguh dalam slogan Trigatra Bangun Bahasa: utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing.

“Saya ingin anak muda mengerti bagaimana penempatan penggunaan bahasa Indonesia yang baik, khususnya di ruang publik. Selain itu, tentu saya tetap berpegang pada Trigatra Bangun Bahasa,” ujar Sakdan.

Perjalanannya meraih gelar itu tidak singkat. Sakdan harus melewati seleksi administrasi, ujian kemampuan bahasa Indonesia dan bahasa asing, hingga wawancara. Para peserta juga dibina lewat kelas daring dan program krida, sebelum menjalani karantina pada 2–5 Juli 2026 di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Bangunan dan Listrik (BBPPMVP BBL) Medan.

Fenomena Campur Bahasa Asing di Kalangan Anak Muda

Sakdan menyoroti kebiasaan anak muda yang kerap mencampurkan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Menurutnya, penggunaan bahasa asing harus disesuaikan dengan konteks, terutama di ruang publik. Ia juga mengingatkan pentingnya melestarikan bahasa daerah sebagai kekayaan bangsa.

“Penguasaan bahasa asing tentu penting, tetapi penggunaannya harus ditempatkan secara tepat. Bahasa Indonesia perlu diutamakan di ruang publik, sementara bahasa daerah harus terus dilestarikan agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman,” ujar Sakdan.

Dengan 718 bahasa daerah yang tersebar di Indonesia, peran generasi muda dinilai krusial untuk menghidupkan dan melestarikan kekayaan linguistik tersebut. Duta Bahasa, menurut Sakdan, bukan sekadar selebrasi di panggung final, melainkan pengabdian nyata untuk merealisasikan semangat Sumpah Pemuda dan kemerdekaan.

Bagikan
Sumber: waspada.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks