MEDAN — Kekhawatiran akan dampak negatif kecerdasan buatan terhadap daya kritis generasi muda disuarakan Pemerintah Kota Medan. Budi Harino menekankan bahwa fitur-fitur instan seperti pembuatan naskah pidato otomatis bisa menjadi bumerang bagi mahasiswa.
"Kemudahan yang ditawarkan AI dapat menjadi ketergantungan seseorang dalam beraktivitas," ujar Budi dalam Seminar Riset AI yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Medan, Sabtu.
AI sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Otak
Menurut Budi, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk mempermudah aktivitas, bukan justru menyerahkan seluruh proses berpikir kepada aplikasi. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak berhenti berkembang hanya karena kemudahan akses informasi.
"Jangan sampai kemajuan ini membuat kita berhenti berkembang. Justru harus kita manfaatkan sebagai batu loncatan untuk melangkah lebih maju," tegasnya.
Kader IMM: AI Tak Boleh Degradasi Kualitas Intelektual
Sekretaris PC IMM Kota Medan, Achmad Navish Isnaini, mengakui bahwa kecerdasan buatan kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem akademik. Ia menyebut hampir semua mahasiswa, peneliti, dan akademisi kerap menggunakan teknologi ini untuk menyelesaikan tugas.
"Artinya teknologi AI ini sudah tidak tabu lagi di dalam dunia kita. Tidak bisa dipungkiri kita sangat sering memakai teknologi ini," ujar Navish.
Namun, ia mengingatkan agar kehadiran AI tidak mendegradasi kualitas intelektual. Navish menekankan bahwa AI harus diposisikan sebagai alat bantu produktivitas, bukan sebagai pengganti kecerdasan berpikir manusia.
"Ketika kita menggunakan AI ini, sejatinya kecerdasan yang dibuat itu bukan semata-mata untuk memenuhi syarat atau kapasitas diri secara instan. AI harus dijadikan alat atau produk pendukung untuk kebutuhan sehari-hari dan riset kita agar lebih optimal," kata dia.
Mencetak Generasi Emas yang Melek Teknologi
Seminar yang dihadiri kader IMM dari berbagai komisariat se-Kota Medan ini bertujuan membekali generasi muda agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan pengguna yang kritis, cerdas, dan bijak.
Budi Harino berharap mahasiswa dapat menjadi barometer bagi elemen masyarakat lain dalam memanfaatkan teknologi dengan baik. Hal ini dinilai kunci untuk mewujudkan generasi emas di masa mendatang.