SUMATERA UTARA — Starlight L PHEV bukan sekadar SUV hybrid biasa. Yang membuatnya menarik adalah paket baterai LFP berkapasitas 37,9 kWh—dua kali lipat dari Toyota RAV4 Prime dan setara baterai Nissan LEAF generasi pertama. Dengan kapasitas sebesar itu, mobil ini bisa melaju hingga 260 km (sekitar 160 mil) tanpa menyalakan mesin bensin sama sekali.
Mesin Bensin Jadi Cadangan, Bukan Sumber Tenaga Utama
Di atas kertas, Starlight L dibekali mesin 1.500cc Atkinson-cycle bertenaga 106 hp dan motor listrik yang menghasilkan total output 170 kW (sekitar 230 hp). Tapi angka itu bukan yang utama. Dalam penggunaan harian, baterai besar membuat SUV ini bekerja seperti mobil listrik murni dengan range extender—bukan PHEV konvensional yang cepat kehabisan daya listrik.
Artinya, untuk komuter jarak 40-50 km per hari, pemilik bisa menjalankan mobil sebagai EV penuh selama hampir seminggu tanpa menyentuh mesin bensin. Ini keunggulan yang jarang ditemukan di segmen PHEV global saat ini.
Kursi Kapten di Baris Kedua, Dimensi Lebih Besar dari Blazer EV
Dengan konfigurasi enam kursi dan dua captain's chair di baris tengah, Starlight L menawarkan kabin yang lapang. Dimensinya tercatat beberapa inci lebih panjang dan lebih tinggi dari Chevrolet Blazer EV. Desain eksteriornya yang tegak dan kokoh dinilai cocok dengan selera konsumen Amerika yang menyukai SUV bertubuh besar.
Pintu Masuk Lewat Kanada: Diplomasi Canola vs Mobil Listrik
Peluang Starlight L masuk Amerika Utara bukan isapan jempol. Kanada baru saja menyetujui impor hingga 49.000 unit EV buatan China per tahun dengan tarif lebih rendah. Kesepakatan ini adalah imbal balik dari negosiasi dagang: China akan menurunkan bea impor minyak canola (saat ini 100%) dan daging babi asal Kanada.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menyatakan bahwa selama kedua negara berjalan di jalur yang benar, potensi peningkatan perdagangan sangat besar. Ini membuka celah bagi Wuling—yang merupakan bagian dari GM—untuk menguji respons pasar Amerika terhadap mobil buatan China.
Bisa Dijual Rp 800 Jutaan Setelah Masuk Pasar AS
Jika benar GM membawa Starlight L ke Amerika Serikat, harga jualnya diperkirakan melonjak 150% menjadi sekitar USD 49.990 (lebih dari Rp 800 juta). Angka itu masih kompetitif untuk ukuran SUV PHEV enam kursi dengan jarak tempuh listrik 260 km. Dengan badge Buick dan sedikit ubahan pada gril serta lampu, mobil ini siap bersaing.
Pertanyaan besarnya sekarang: apakah konsumen di sana mau repot mencolokkan kabel setiap hari? Karena tanpa kebiasaan ngecas, keunggulan utama Starlight L—jarak tempuh listrik 260 km—hanya akan jadi angka di brosur.