Pencarian

Mengintip Nogogeni XI EVO dan Nogogeni IX: Andalan ITS untuk KMHE 2026

Jumat, 04 September 2026 • 11:06:01 WIB
Mengintip Nogogeni XI EVO dan Nogogeni IX: Andalan ITS untuk KMHE 2026
Nogogeni XI EVO dan Nogogeni IX dipamerkan tim ITS di Surabaya sebagai persiapan menghadapi KMHE 2026 di Universitas Negeri Jember.

SUMATERA UTARA — Pekan ini tim Nogogeni ITS memamerkan dua kendaraan hemat energi terbaru di Surabaya. Keduanya akan diturunkan di KMHE 2026 yang direncanakan berlangsung di Universitas Negeri Jember (UNEJ) pada akhir September atau awal Oktober mendatang. Dari obrolan dengan General Manager Tim Nogogeni, Hafiz Diandra Pratama, terlihat optimisme tinggi untuk mempertahankan gelar juara. Namun, sebagai reviewer, kami lebih penasaran dengan klaim teknis yang belum bisa diverifikasi tanpa data sesungguhnya.

Dua Mobil, Dua Pendekatan Berbeda

Nogogeni XI EVO adalah mobil urban bertenaga listrik. Area pengembangannya difokuskan pada sistem penggerak dan bobot rangka. Sementara Nogogeni IX memakai etanol dan lebih berkutat pada efisiensi mesin dan drive system. Strategi ini cukup masuk akal karena bahan bakar berbeda menuntut perlakuan yang tidak sama.

Sayangnya, bahan resmi yang diberikan tidak menyebutkan ukuran motor listrik, kapasitas baterai, atau rasio kompresi untuk versi etanol. Tanpa spesifikasi angka, sulit membedakan inovasi sejati dengan sekadar penyempurnaan kecil.

Yang Diklaim Berubah: Gesekan dan Bobot

Hafiz menjelaskan bahwa kedua mobil kini memiliki konstruksi engine yang dirancang untuk memperkecil losses. "Dengan rancangan mesin tersebut bisa membuat losses mobil menjadi lebih sedikit dan efisiensinya meningkat," ujarnya. Secara teori, mengurangi gesekan pada bearing, ring piston, atau rantai penggerak memang salah satu cara paling efektif menaikkan efisiensi tanpa menambah kompleksitas.

Untuk Nogogeni XI EVO, penurunan bobot rangka adalah kunci. Pada mobil listrik, berat ekstra berarti motor listrik harus bekerja lebih keras dan baterai lebih cepat terkuras. Jadi penghematan di setiap kilogram sangat penting. Namun tanpa data bobot total atau perbandingan dengan generasi sebelumnya, kami belum bisa menakar seberapa besar kemajuannya.

Uji Coba di Sirkuit GBT, Fasilitas yang Jarang Dimiliki Mahasiswa

Satu hal yang patut diacungi jempol adalah akses penuh tim ke sirkuit Gelora Bung Tomo untuk tes. Pembina tim Dedy Zulhidayat Noor menyebut mahasiswa bisa mengukur performa, modifikasi rasio gigi, dan mengevaluasi aspek teknis sebelum lomba. Ini bukan sekadar soal fasilitas — sirkuit dengan permukaan aspal yang bervariasi memberi data nyata yang tidak bisa didapat dari simulasi atau jalan biasa.

Meski begitu, kecepatan rata-rata saat uji maupun konsumsi energi per kilometer tidak diungkap. Untuk sebuah program yang mengklaim peningkatan efisiensi signifikan, ketiadaan angka baseline itu sedikit mengganjal.

Target Ganda: KMHE dan Shell Eco-marathon

Tidak hanya untuk kompetisi domestik, kedua mobil ini dirancang dengan proyeksi bisa turun di Shell Eco-marathon (SEM) di masa mendatang. Ini langkah logis mengingat skor efisiensi yang bagus di KMHE biasanya juga tampil baik di SEM, meski aturan lintasan dan kategori bahan bakar bisa berbeda.

Dukungan ITS dalam bentuk rekomendasi karier untuk mahasiswa yang juara juga disorot Direktur Kemahasiswaan Nur Syahroni. "Dengan itu, mahasiswa dapat termotivasi untuk terus berkompetisi dan mempertahankan prestasi gemilang dari tahun ke tahun." Ini menarik karena menghubungkan kemenangan lomba dengan peluang kerja di mitra industri kampus — sesuatu yang jarang terlihat di program riset kampus lain.

Catatan Kritis: Data Lebih Penting dari Klaim

Sebagai reviewer, kami mencatat bahwa tidak ada satu pun perwakilan tim yang menyebut angka efisiensi aktual — baik dalam km/kWh untuk EVO maupun km/liter untuk Nogogeni IX. Padahal untuk membuktikan kenaikan performa "signifikan", angka pembanding musim lalu seharusnya mudah disajikan.

Selain itu, perlu diingat bahwa mobil ini adalah platform riset, bukan produk untuk dijual. Inovasi seperti manajemen bobot dan pengurangan gesekan memang akan bermanfaat jika diterapkan pada mobil konvensional di masa depan, tapi butuh waktu dan pengembangan industri untuk sampai ke konsumen. Jadi jangan berharap teknologi ini muncul di dealer dalam waktu dekat.

Kesimpulan Awal: Potensi Besar, Bukti Masih Kurang

Nogogeni XI EVO dan Nogogeni IX adalah bukti bahwa anak kampus mampu berinovasi serius. Fokus pada efisiensi — bukan kecepatan — adalah pendekatan yang tepat untuk ajang seperti KMHE. Kami ingin melihat hasil pengujian riil di sirkuit UNEJ nanti, terutama angka konsumsi energi yang bisa mematahkan atau mengonfirmasi rasa percaya diri tim.

Untuk pembaca yang tertarik pada teknologi otomotif masa depan, perkembangan tim ini layak diikuti. Namun sebagai konsumen, Anda masih harus menunggu beberapa tahun lagi sebelum teknologi hemat energi dari kampus seperti ini menyentuh pasar komersial.

Follow inisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: pawartajatim.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks