MEDAN — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memulai program percepatan bebas pasung dengan menyasar tiga daerah sekaligus: Kabupaten Asahan, Kota Tanjungbalai, dan Kabupaten Labuhanbatu Utara. Tim dari RSJ Prof. Dr. Muhammad Ildrem Sumut akan menjemput langsung ODGJ yang masih dipasung oleh keluarganya.
Direktur RSJ Prof. Dr. Muhammad Ildrem Sumut, Sri Suriani Purnamawati, mengatakan pemasungan kerap dilakukan keluarga agar ODGJ tidak mengganggu atau meresahkan warga. Praktik itu dinilai melanggar aturan.
“Minggu ini kita coba turun ke daerah mengatasi masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan atau ODGJ yang dipasung pihak keluarganya. Selama ini mereka dipasung supaya tidak mengganggu, tidak meresahkan masyarakat, padahal itu dilarang dan tidak dibenarkan,” ujar Sri dalam konferensi pers di Medan, Kamis (16/7/2026).
Layanan Antar-Jemput Pakai Mobil Donasi Baznas
Program bebas pasung didukung layanan transportasi khusus untuk menjemput dan mengantar pasien ke RSJ. Setelah tiba, pasien mengikuti program rehabilitasi psikososial atau daycare yang bertujuan membangun kemandirian.
“Rehabilitasi psikososial penting untuk ODGJ karena membentuk kebiasaannya setiap hari melakukan aktivitas. Ini strategi untuk kemandirian pasien. Pagi diantar, sore dijemput keluarganya,” kata Sri.
Layanan antar-jemput menjadi tantangan karena pasien ODGJ tidak bisa menggunakan transportasi umum. Sementara ambulans dikenakan retribusi. RSJ bekerja sama dengan Baznas membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ) untuk mengelola zakat, infak, dan sedekah guna pengadaan kendaraan operasional.
“Saat ini masih satu mobil. Kami terus membuka donasi, mudah-mudahan mobil transportasi ini bisa bertambah,” ujar Sri.
Pasien Diajak Melukis, Beternak Ayam, hingga Budidaya Magot
Selama mengikuti daycare, pasien menjalani pembinaan kerohanian, pengajian, melukis, dan pelatihan keterampilan membuat sabun cuci piring, eco enzyme, serta karbol. Hasil karya pasien dipamerkan dan dipasarkan di stan RSJ pada Pekan Raya Sumatera Utara ke-50.
“Pasien juga kami beri pelatihan menanam sayuran seperti kangkung, pakcoi, dan kami ajarkan budidaya magot. Di RSJ ada instalasi gizi yang memiliki limbah organik, kami buat magot dan beternak ayam petelur yang satu kandang 15 ekor,” jelas Sri.
Melalui program daycare, pasien diharapkan membangun kebiasaan positif dalam 20 kali kunjungan sehingga bisa kembali beraktivitas dan berkomunikasi dengan keluarga.
“Stigma bahwa orang dengan gangguan jiwa tidak bisa melakukan apa-apa itu tidak benar. Gangguan jiwa tidak mengubah dan tidak mengurangi kecerdasan. Sifat agresif dan halusinasinya bisa ditekan dengan obat-obatan sehingga mereka tetap bisa beraktivitas kembali,” terang Sri.
Deteksi Dini Kesehatan Mental Anak Sekolah Jalan Berbarengan
RSJ Prof. Dr. Muhammad Ildrem juga menjalankan program deteksi dini kesehatan mental bagi anak sekolah. Langkah ini untuk menemukan lebih awal orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) sehingga penanganan dan terapi bisa dilakukan lebih cepat.
“Kalau ada anak dan remaja yang mengalami masalah kejiwaan, mungkin karena beban tugas di sekolah yang tinggi, bisa datang ke RSJ untuk mendapatkan layanan kesehatan langsung dengan dokter psikiatri khusus anak dan remaja,” kata Sri.
186 ODGJ Sudah Ditangani, Dua Pasien di Tanjungbalai Masih Dipasung
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sumut, Hery Valona Bonatua Ambarita, menyebutkan sebanyak 186 ODGJ yang tersebar di 33 kabupaten/kota di Sumut telah mendapatkan penanganan.
Program ini merupakan bagian dari Universal Health Coverage (UHC), Program Berobat Gratis (PROBIS), dan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Gubernur Sumut sehingga masyarakat bisa mengakses layanan kesehatan jiwa tanpa biaya.
“Masyarakat yang terpasung akan kita bawa ke RS Jiwa. Di Tanjungbalai, dari lima orang yang terpasung tinggal dua orang lagi yang keluarganya belum bersedia. Padahal, ODGJ harus dibawa ke RS Jiwa untuk mendapatkan pelayanan yang standar,” kata Hery.