MEDAN — Pertemuan antara Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dan jajaran Persatuan Wartawan Pemko Medan (PWPM) menghasilkan titik temu penting: hubungan pemerintah dan pers harus dibangun di atas rasa saling menghormati, bukan saling curiga. Rico secara terbuka menyatakan bahwa pers tidak perlu menjadi corong pemerintah, melainkan mitra yang menyajikan informasi berkualitas.
"Informasi yang benar, sehat, dan tidak membuat masyarakat tersesat," demikian penekanan Rico Waas dalam pertemuan tersebut, sebagaimana dikutip dari rilis yang diterima, Senin. Bagi Rico, kualitas komunikasi publik tidak diukur dari banyaknya informasi yang beredar, melainkan dari mutu informasi itu sendiri.
Filosofi "Cobra": Ketajaman yang Terukur
Julukan "Cobra" yang melekat pada Muhammad Edison Ginting, Ketua PWPM, bukan sekadar panggilan. Julukan itu lahir dari perjalanan panjang dan konsistensi. Dalam konteks jurnalistik, filosofi kobra merepresentasikan kewaspadaan, ketelitian, dan keberanian yang tetap terukur.
"Seekor kobra tidak bergerak tanpa perhitungan. Ia mengamati, membaca situasi, dan bertindak secara terukur," demikian analogi yang digunakan. Karakter ini sejalan dengan jurnalisme profesional yang tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, tidak membangun opini berdasarkan prasangka, dan tidak menjadikan sensasi sebagai tujuan utama.
Pertemuan dua gagasan—filosofi "Cobra" dan visi Rico Waas—sama-sama bertumpu pada satu prinsip: informasi yang berkualitas adalah fondasi pemerintahan yang sehat.
Kritik yang Jujur, Bukan Permusuhan
Rico Waas menekankan bahwa kritik yang jujur justru diperlukan pemerintah untuk melakukan evaluasi. Sementara itu, masyarakat membutuhkan informasi yang utuh agar dapat menilai kebijakan secara objektif. Kemitraan yang sehat, menurutnya, bukan berarti pers kehilangan independensi.
"Kemitraan yang baik memberi ruang bagi pers untuk menyampaikan apresiasi terhadap keberhasilan pemerintah sekaligus menyampaikan kritik yang objektif ketika diperlukan," ujar Edison Ginting menambahkan. Pemerintah memperoleh masukan konstruktif, sedangkan masyarakat memperoleh informasi yang dapat dipercaya.
Investasi Jangka Panjang untuk Ekosistem Informasi
Dalam pertemuan itu, Rico Waas juga menggagas peningkatan kualitas wartawan melalui karya tulis, fotografi jurnalistik, penulisan sejarah, budaya, hingga karya visual. Gagasan ini dinilai sebagai investasi jangka panjang bagi ekosistem informasi di Kota Medan.
Wartawan masa kini, menurut Rico, dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga mampu menyajikan karya yang kaya data, memiliki konteks, dan memberi nilai tambah bagi pembaca. Organisasi wartawan seperti PWPM diharapkan tidak sekadar menjadi wadah silaturahmi, melainkan ruang pembelajaran dan penguatan integritas profesi.
Di tengah derasnya arus media digital dan maraknya disinformasi, pendekatan ini menjadi semakin relevan. Masyarakat memerlukan media yang mampu menjadi penjernih, bukan penambah kebingungan. Apabila filosofi "Cobra" terus dipelihara dan dipertemukan dengan komitmen pemerintah membangun komunikasi publik yang terbuka, Kota Medan tidak hanya akan memiliki pemerintahan yang komunikatif, tetapi juga ekosistem pers yang sehat, profesional, dan mencerdaskan.