MEDAN — Perayaan ulang tahun ke-436 Kota Medan tahun ini tidak sekadar seremoni. Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi membuka Rakernas APEKSI ke-XVIII tahun 2026 di Lapangan Batalyon Parako 463 Pasgat pada Rabu (1/7/26). Kehadiran para wali kota dari berbagai daerah ini menjadikan momentum hari jadi sebagai ajang konsolidasi nasional, sekaligus menegaskan bahwa Medan kini menjelma sebagai pusat pertemuan para pemimpin kota di Indonesia.
Mengapa Rakernas APEKSI Digelar Bersamaan dengan HUT Medan?
Pemerintah Kota Medan sengaja menggabungkan dua agenda besar ini untuk memaksimalkan dampak ekonomi dan diplomasi daerah. Dengan dihadiri oleh sekitar 100 kepala daerah dari Sabang sampai Merauke, perayaan tahun ini tidak hanya menampilkan budaya dan sejarah, tetapi juga menjadi etalase kebijakan inovatif Pemkot Medan. Rico Waas mengawali pidato dengan sapaan multibudaya—Horas, Mejuah-juah, Yahowu, hingga Ahoi—yang menjadi simbol komitmennya terhadap inklusivitas.
“Kemajuan yang kita nikmati hari ini adalah tongkat estafet dari para pendahulu. Kini, tugas kita adalah memastikan Medan terus berlari, inklusif bagi semua, dan tak tertinggal oleh zaman,” seru Rico di hadapan ratusan delegasi dan para konsul negara sahabat yang turut hadir.
Visi Medan Tangguh: Digitalisasi dan Pelayanan Publik
Mengusung tema “Medan Tangguh, Maju untuk Semua”, pemerintah kota memfokuskan arah pembangunan pada tiga pilar utama. Pertama, transformasi digital melalui program Medan Satu Data yang bertujuan mengintegrasikan seluruh data kependudukan dan pelayanan publik. Kedua, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan yang merata. Ketiga, penciptaan kota yang humanis bagi seluruh lapisan masyarakat.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian serius adalah pengelolaan pendapatan daerah. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Medan, M. Agha Novrian, yang hadir dalam upacara, menyampaikan komitmennya untuk mempercepat digitalisasi layanan perpajakan dan retribusi.
“Kami di Bapenda berkomitmen penuh untuk mentransformasi sektor pendapatan daerah melalui berbagai inovasi dan digitalisasi layanan guna memberikan pelayanan yang maksimal bagi masyarakat Kota Medan,” ujar Agha. Ia menambahkan bahwa target utama dari transformasi ini adalah menciptakan layanan yang lebih efektif, transparan, akuntabel, serta mudah diakses oleh masyarakat.
Warisan Sejarah dan Kolaborasi Lintas Daerah
Suasana upacara semakin hangat dengan kehadiran para Wali Kota Medan terdahulu serta perwakilan konsulat negara sahabat. Kehadiran mereka menjadi pengakuan atas perjalanan panjang Kota Medan yang telah berusia lebih dari empat abad. Rico Waas menekankan bahwa kemajuan yang dinikmati saat ini adalah hasil estafet dari para pendahulu, dan tugas generasi sekarang adalah memastikan kota ini terus berlari tanpa meninggalkan identitas keberagamannya.
Dengan berakhirnya rangkaian upacara, Medan resmi memasuki usia ke-436. Pemerintah kota kini bersiap untuk merealisasikan janji-janji transformasi digital yang telah dicanangkan, dengan harapan dapat memberikan dampak langsung pada kemudahan akses layanan bagi warganya. (*)