MEDAN — Badan Pengurus Toba Caldera Unesco Global Geopark (TCUGGp) mengumumkan Danau Toba akan menjadi tuan rumah Geotourism Festival (Geofest) ke-7 pada 1-5 Juli 2026. Puncak acara bakal berlangsung di tiga kabupaten kawasan Danau Toba, yakni Simalungun, Samosir, dan Karo.
General Manager TCUGGp Azizul Kholis mengatakan ajang ini menjadi momentum strategis untuk memperluas jaringan antar-geopark dunia. “Geofest merupakan festival geowisata dan konferensi internasional yang mempertemukan pakar geologi, pegiat wisata, dan pemangku kepentingan untuk mempromosikan destinasi geopark, geokonservasi, dan pariwisata,” ujarnya dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Selasa.
Empat Puluh Geosite Baru Siap Diluncurkan
Dalam rangkaian Geofest ke-7, Toba Caldera UNESCO Global Geopark akan menetapkan sedikitnya 40 geosite baru. Azizul menjelaskan, penambahan ini bertujuan memperkaya pilihan destinasi wisata sekaligus memperpanjang lama kunjungan wisatawan. “Jadi pengunjung punya pilihan yang lebih banyak dan juga akan menambah waktu kunjungan,” katanya.
Kerja Sama dengan Geopark Asia Tenggara Dicanangkan
BP TCUGGp juga akan memperkuat kerja sama dengan geopark lain di kawasan Asia Tenggara. Beberapa di antaranya adalah Geopark Lenggong dan Langkawi dari Malaysia, serta geopark dari Thailand dan Filipina. “Kerja samanya akan dicanangkan pada saat Geofest ke-7,” ujar Azizul.
Berbagai agenda telah disiapkan, mulai dari penandatanganan kerja sama antar-UGGp, seminar penguatan tata kelola geopark, peresmian geosite baru, hingga forum ilmiah internasional.
Pemprov Sumut: Dampak Ekonomi Langsung ke Masyarakat Lokal
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumut, Adryanta Putra Ginting, menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Geofest. Menurutnya, kegiatan berskala internasional ini berpotensi memberi dampak signifikan terhadap perekonomian masyarakat lokal.
“Kita akan berikan dukungan penuh, apalagi ini skalanya sudah internasional. Mudah-mudahan mendorong perekonomian lokal, jumlah kunjungan, dan juga popularitas Danau Toba di dunia,” kata Adryanta.