Pencarian

KUR BRI Rp10 Juta Jadi Modal Awal, Kopi Arabika Sipirok Tembus Pasar China dan Taiwan

Selasa, 23 Juni 2026 • 19:47:02 WIB
KUR BRI Rp10 Juta Jadi Modal Awal, Kopi Arabika Sipirok Tembus Pasar China dan Taiwan
Siti Muslihah memulai bisnis kopi arabika Sipirok dengan modal KUR BRI Rp10 juta pada 2013.

TAPANULI SELATAN — Siti Muslihah, Direktur Tabo Kopi, membuktikan bahwa keyakinan terhadap potensi daerah bisa melahirkan bisnis kelas ekspor. Perempuan asal Sipirok ini memulai usahanya setelah melihat kopi arabika lokal belum banyak diolah secara modern.

"Tahun 2013 saya resign dari pekerjaan. Saya melihat potensi kopi yang ada di Tapanuli Selatan, khususnya di Sipirok. Potensinya luar biasa, hanya saja belum diolah secara maksimal," ujar Siti kepada disrupsi.id.

Dari Penolakan hingga Pameran Internasional

Perjalanan Siti tak mulus. Saat itu masyarakat setempat lebih akrab dengan kopi robusta. Kopi arabika yang ia tawarkan justru mendapat penolakan.

"Banyak yang bilang kopi arabika itu bubuk mesiu. Ada yang meragukan kualitasnya, bahkan menganggap tidak layak dikonsumsi," kenangnya.

Alih-alih menyerah, Siti mencari pasar di luar Sumatera. Ia mulai mengikuti pameran di Bali dan Jakarta, dua kota yang memiliki komunitas pecinta kopi specialty. Titik balik terjadi pada 2015 saat Kopi Tabo lolos seleksi dalam sebuah konferensi internasional di Bali.

Kemitraan Enam Kecamatan dan Standar IG

Kini usaha Siti berkembang menjadi klaster bisnis kopi yang bermitra dengan petani di enam kecamatan: Sipirok, Saipar Dolok Hole, Angkota Timur, Arse, Marancar, dan Aek Bilah. Petani mendapat pendampingan dari pembibitan hingga panen.

Kopi yang digunakan berasal dari lahan dengan ketinggian minimal 900 meter di atas permukaan laut (mdpl), sesuai standar Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika Sipirok. "Semakin tinggi lahan tanamnya, rasa kopi semakin enak," kata Siti.

Harga produk bervariasi, mulai Rp250 ribu hingga Rp750 ribu per kilogram, tergantung jenis dan proses pengolahan. "Semakin enak pasti akan mahal. Semakin lama berproses, semakin sulit proses, pasti juga harganya mahal," urainya.

Dampak ke Daerah Sendiri

Menurut Siti, kebahagiaan terbesar bukan hanya peningkatan penjualan. Kini budaya minum kopi arabika mulai tumbuh di Tapanuli Selatan. "Dulu hampir tidak ada yang minum kopi arabika. Sekarang sudah banyak kafe dan pengolah kopi bermunculan," ungkapnya.

Modal awal Rp10 juta dari KUR BRI pada 2013 menjadi fondasi bisnis ini. "Prinsip saya, uang yang dipinjam harus bisa berputar menjadi uang lagi," tegas Siti.

Bagikan
Sumber: disrupsi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks