SUMATERA UTARA — KAI tidak hanya menjual tiket kereta. Lewat platform anyar bernama Space by KAI, perusahaan pelat merah ini membuka pintu bagi investor dan pelaku usaha untuk menyewa atau mengelola aset-aset strategis milik KAI yang tersebar di berbagai wilayah.
Direktur Bisnis dan Pengembangan Usaha KAI, Rafli Yandra, mengatakan banyak aset perusahaan yang memiliki nilai komersial fantastis namun masih bisa dikembangkan lebih optimal. “Di balik transportasi, sebenarnya KAI mempunyai banyak aset-aset yang nilainya sangat fantastis, dan juga secara komersial juga sebenarnya bisa kita harapkan opportunity bisnis dari sisi ini,” ujarnya dalam peluncuran Space by KAI di Jakarta, Rabu (10/7).
Platform ini menawarkan beragam jenis properti komersial, mulai dari ruang usaha di stasiun, kawasan transit, lahan kosong, hingga bangunan cagar budaya (heritage) milik KAI. Calon mitra juga bisa mengakses informasi aset melalui laman space.kai.id yang dilengkapi fitur pencarian digital dan peta interaktif.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa platform ini memungkinkan investor melihat langsung peluang pemanfaatan aset yang tersedia. “Melalui space.kai.id, calon investor maupun mitra bisnis dapat melihat langsung berbagai peluang pemanfaatan aset KAI yang tersedia,” katanya.
Anne menambahkan, sistem ini sudah terintegrasi dengan database aset perusahaan sehingga data yang ditampilkan selalu akurat dan bisa diperbarui secara cepat. Aset yang ditawarkan mencakup lahan, bangunan, rumah perusahaan, media iklan, hingga aset pendukung operasional perkeretaapian lainnya.
Salah satu nilai jual utama yang ditonjolkan KAI adalah jumlah penumpang yang melintasi stasiun setiap tahun. Dengan target trafik mencapai 560 juta penumpang pada 2025, KAI menawarkan pasar yang relatif pasti (captive market) bagi pelaku usaha yang menyewa ruang di lingkungan perkeretaapian.
“Kondisi tersebut menciptakan pasar yang besar sekaligus captive sehingga dapat menjadi nilai tambah bagi pengembangan berbagai model bisnis,” tutur Rafli.
Menurut Rafli, Space by KAI tidak hanya berfungsi sebagai katalog aset. Platform ini juga menjadi gerbang awal bagi pelaku usaha untuk menjajaki peluang kerja sama, memahami potensi bisnis yang tersedia, hingga memulai proses kemitraan secara lebih mudah dan transparan.
Rafli berharap pelaku usaha mulai memandang KAI sebagai sebuah ekosistem bisnis yang menyediakan berbagai peluang kolaborasi, bukan semata-mata operator transportasi. “Space by KAI diharapkan jadi titik temu kolaborasi strategis yang mampu membuka lebih banyak peluang usaha di lingkungan KAI,” ucapnya.
Dengan hadirnya platform ini, KAI ingin mempercepat proses pemasaran aset yang sebelumnya lebih banyak dilakukan secara konvensional. Sistem digital diharapkan mampu menjangkau lebih banyak calon investor dan mitra bisnis dari berbagai daerah.