JAKARTA — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung jatuh bebas sejak bel pembukaan dibunyikan. Indeks komposit yang sempat terpantau turun 1,40 persen pada masa preopening, akhirnya dibuka merosot lebih dalam hingga menembus level psikologis 6.600.
Tekanan jual tidak hanya melanda bursa dalam negeri. Sejumlah indeks utama Asia juga kompak terperosok. Nikkei 225 Jepang ambles 1,02 persen, Hang Seng Hong Kong turun 1,06 persen, dan Straits Times Singapura melemah 0,32 persen. Hanya SSE Composite China yang masih mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,06 persen.
Di pasar valuta asing, tekanan terhadap rupiah belum juga mereda. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, kurs rupiah terhadap dolar AS tercatat di angka Rp 17.630. Posisi ini berarti mata uang Garuda sudah melemah 33 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Level ini menjadi yang terlemah dalam beberapa bulan terakhir, mendekati titik terendah sejarah saat krisis 1998 dan 2020.
Pelemahan IHSG dan rupiah terjadi di tengah kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga global serta ketidakpastian ekonomi domestik. Data fundamental yang belum menunjukkan perbaikan signifikan membuat investor asing cenderung menarik dana dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. Tekanan jual pun terjadi sejak sesi preopening dan berlanjut hingga bel pembukaan.
Belum ada pernyataan resmi dari otoritas bursa maupun Bank Indonesia terkait langkah stabilisasi yang akan diambil. Namun, pelaku pasar menunggu intervensi dari regulator untuk meredam gejolak yang terjadi. Sepanjang pekan ini, pergerakan IHSG dan rupiah diprediksi masih akan volatil mengikuti sentimen global dan data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.