Pencarian

PT Agincourt Resources Rehabilitasi 56,75 Hektare Lahan di Tapanuli Selatan, Target 521 Hektare Rampung 2034

Sabtu, 19 September 2026 • 10:46:00 WIB
PT Agincourt Resources Rehabilitasi 56,75 Hektare Lahan di Tapanuli Selatan, Target 521 Hektare Rampung 2034

TAPANULI SELATANPT Agincourt Resources (PTAR) mencatat 56,75 hektare lahan di sekitar Tambang Emas Martabe, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, sudah direhabilitasi per Juli 2026. Angka itu bagian dari target pemulihan 521,37 hektare yang dicanangkan rampung pada 2034, bertepatan dengan berakhirnya izin operasional perusahaan.

Rehabilitasi dijalankan bertahap selama kegiatan eksplorasi tambang emas masih berlangsung. PTAR menyebut pemulihan kawasan sebagai bagian dari program konservasi perusahaan, bukan pekerjaan yang menunggu operasional berhenti lebih dulu.

Pembibitan 60 Ribu Bibit dari 70 Spesies Tanaman Lokal

Untuk mendukung reklamasi, PTAR mengembangkan pusat pembibitan dengan 60 ribu bibit yang mencakup 70 spesies tanaman. Bibit itu tidak diambil sembarangan, melainkan dari tanaman asli Hutan Batangtoru.

Prosesnya dimulai dengan mengambil cabutan dari pohon induk di alam sekitar area operasional. Anakan bibit kemudian dibawa ke Pusat Pembibitan PTAR untuk dirawat hingga cukup umur, sebelum ditanam sebagai tanaman sisipan di area reklamasi.

Jenis tanaman yang dikembangkan antara lain beringin, kapur, meranti, jotik jotik, barus, durian, cempedak hutan, nangka hutan, dan jengkol hutan. PTAR juga mengembangkan tanaman endemik Batangtoru.

"Tanaman lokal yang hanya ada di Batangtoru atau endemik itu Simarbaliding dan Torop," kata Junior Supervisor Environmental Rehabilitation PTAR, Yuni Pulungan.

Simarbaliding memiliki nama ilmiah Ixonanthes petiolaris dan berasal dari Sumatra, khususnya Tapanuli. Torop menjadi sumber pakan penting bagi satwa liar, terutama orangutan Tapanuli yang habitatnya berada di Ekosistem Batangtoru.

Tanaman Kacangan Ditanam Lebih Dulu Sebelum Pionir

Kawasan sasaran rehabilitasi merupakan area preservasi PTAR yang sebelumnya sudah dipetakan, mulai dari area perkantoran hingga dinding Tailing Storage Facility (TSF). Pemetaan itu dilakukan untuk menjaga keanekaragaman hayati sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem.

Jenis tanaman yang digunakan di setiap area berbeda menyesuaikan karakter lahan. Ada tanaman kacang-kacangan atau Legume Cover Crops (LCC), ada pula tanaman tegakan.

"Setelah area rehabilitasi sudah ditentukan, kita isi dulu dengan tanaman kacangan atau LCC tanaman yang cepat tumbuh dan membuat tanah jadi lebih subur. Setelah beberapa bulan kemudian kita masukan tanaman-tanaman pionir," ujar Yuni.

Tim Biodiversity PTAR memantau pertumbuhan tanaman secara berkala, termasuk mencatat fauna atau serangga yang menghampiri area rehabilitasi. Berdasarkan rekomendasi tim Biodiversity Advisory Panel (BAP), PTAR menjalin kerja sama dengan Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC UI) untuk monitoring dan pemantauan.

Tujuh Upaya Konservasi Sejak Beroperasi 2012

Rehabilitasi yang dijalankan Yuni dan tim Nursery merupakan bagian dari upaya konservasi yang diinisiasi PTAR sejak beroperasi pada 2012. Perusahaan membentuk Panel Penasehat Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Advisory Panel/BAP) berisi pakar ilmiah independen dari berbagai universitas.

Panel itu beranggotakan Rondang Siregar, Dr Sri Suci Utami Atmoko, Dr Puji Rianti, dan Dr Onrizal. Mereka memberi masukan pengelolaan keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasi.

PTAR menerapkan hierarki mitigasi Hindari-Minimalkan-Pulihkan-Imbangi. Dampak terhadap biodiversitas diupayakan dihindari lebih dulu, kemudian diminimalkan, dipulihkan, dan bila diperlukan diimbangi.

Sebelum pembukaan lahan, perusahaan melakukan survei dan pemeriksaan fauna. Jika ditemukan satwa dilindungi, kegiatan di sekitar lokasi dapat dihentikan untuk memastikan prosedur perlindungan dijalankan.

PTAR juga menjaga konektivitas habitat melalui jembatan arboreal yang membantu satwa penghuni tajuk berpindah antarpohon. Perusahaan menetapkan area konservasi seluas 1.985,47 hektare sebagai bagian dari upaya menjaga biodiversitas.

Stasiun Riset Batangtoru dibangun dengan teknologi dan fasilitas untuk mendukung penelitian serta konservasi. Pengembangannya membuka ruang kolaborasi dengan akademisi, LSM, dan masyarakat.

Dengan tujuh upaya konservasi itu, PTAR menargetkan meninggalkan jejak lestari jangka panjang di Tapanuli Selatan setelah operasional tambang berakhir. Saat izin berakhir pada 2034, perusahaan ingin rehabilitasi sudah berjalan 100 persen dan "jubah hijau" Hutan Batangtoru kembali terpasang.

Follow inisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sumut.idntimes.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks