Pencarian

Anak Krakatau Muntahkan Magma Setara 10 Tahun dalam Dua Pekan Usai Runtuhan 2018

Selasa, 15 September 2026 • 16:03:01 WIB
Anak Krakatau Muntahkan Magma Setara 10 Tahun dalam Dua Pekan Usai Runtuhan 2018
Peneliti memaparkan perkembangan sistem magma Anak Krakatau dalam webinar, Senin (14/9).

SUMATERA UTARA — Prof Sebastian Watt dari University of Birmingham memaparkan hal ini dalam sesi tanya jawab webinar mengenai perkembangan Anak Krakatau, Senin (14/9). Menurut dia, respons sistem magma terhadap keruntuhan itu berlangsung sangat cepat.

"Sekitar 350 meter batuan hilang dalam keruntuhan lateral dari atas saluran. Setelah itu terjadi laju erupsi yang sangat tinggi, dengan magma yang mungkin setara dengan sekitar 10 tahun magma dari periode sebelum keruntuhan sejak 1960-an, yang keluar dalam waktu sekitar satu atau dua pekan," jelas Watt.

Bukti Petrologi: Magma Naik Sangat Cepat

Analisis petrologi terhadap material erupsi memperkuat temuan tersebut. Hasil analisis konsisten dengan adanya dekompresi pada sistem magma, yang memungkinkan magma di bawah Anak Krakatau naik ke permukaan dengan sangat cepat.

Lonjakan laju erupsi pada akhir 2018 hingga awal 2019 dinilai sebagai respons langsung terhadap berkurangnya beban tubuh gunung api. Sebelum keruntuhan, laju pertumbuhan Anak Krakatau tercatat relatif stabil hingga sekitar 1960.

Setelah periode itu, laju pertumbuhan mulai melambat. Watt dan tim menafsirkan perubahan tersebut sebagai indikasi semakin banyak magma yang tersimpan di dalam kerak, sementara lebih sedikit magma yang keluar dalam bentuk erupsi.

Laju Erupsi Mulai Melambat Sejak 2019

Pada periode 2019-2023, laju erupsi Anak Krakatau masih tergolong tinggi, tetapi Watt melihat tanda-tanda penurunan. Ia memperkirakan laju tersebut akan semakin lambat jika pola pertumbuhan gunung api terus mengikuti pola sebelumnya.

"Saya memperkirakan bahwa jika pertumbuhan erupsi terus berlangsung, laju erupsi akan menjadi lebih lambat. Jadi, itu adalah perkiraan saya berdasarkan pola sebelumnya. Tetapi tentu saja, itu tidak pasti," ujar Watt.

Watt menambahkan, laju naiknya magma dan laju erupsi telah menurun sejak 2019. Karakter magma yang naik kini mulai lebih mirip dengan sampel dari sekitar 1960, menjadi salah satu alasan ia memperkirakan laju erupsi dapat terus melambat.

Belum Ada Bukti Perubahan Gaya Erupsi

Dalam jangka waktu yang jauh lebih panjang, penyimpanan magma di kerak dapat memungkinkan magma mengalami evolusi kimia. Magma yang semakin kaya silika secara umum berkaitan dengan gaya erupsi yang lebih eksplosif, seperti Plinian atau sub-Plinian.

Namun, Watt menegaskan belum ada bukti jelas bahwa Anak Krakatau sudah menuju kondisi tersebut. Ia meminta lonjakan erupsi setelah keruntuhan 2018 tidak langsung diartikan sebagai tanda gunung api itu berubah menjadi gunung api dengan gaya erupsi baru.

"Kita belum pernah melihat itu di Anak Krakatau. Kita tidak tahu berapa lama proses itu akan berlangsung, tetapi yang kita tahu dari data yang ada dalam perspektif yang lebih panjang, hal itu memang terjadi. Jadi, kita mungkin memperkirakan hal itu terjadi pada suatu titik, tetapi kita tidak tahu berapa lama proses itu akan berlangsung," kata Watt.

Pemantauan Berkelanjutan Jadi Kunci

Aktivitas Anak Krakatau tetap perlu dibandingkan dengan rekam jejak sebelumnya. Data erupsi terbaru dan erupsi berikutnya dapat membantu ilmuwan mengetahui apakah gunung api tersebut masih mengikuti pola yang sudah dikenali atau mulai menunjukkan perilaku berbeda.

"Masih ada kebutuhan dan kepentingan untuk menilai erupsi terbaru dan erupsi masa depan, untuk melihat apakah perkiraan kami tepat atau apakah gunung api sedang berperilaku dengan cara yang berbeda dari aktivitas sebelumnya," ujar Watt.

Bagi peneliti dan otoritas kebencanaan, temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan real-time sistem magma Anak Krakatau. Perubahan kecil pada laju erupsi dapat menjadi sinyal awal pergeseran perilaku gunung api yang berdampak pada mitigasi tsunami di kawasan Selat Sunda.

Follow inisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks