TAPANULI SELATAN — Pendampingan yang dijalankan PT Agincourt Resources (PTAR) sejak 2023 membawa perubahan signifikan bagi perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara. Salah satu penerima manfaat, Dian Anggriani Siregar, pemilik Eza Cake, mengaku omzet usahanya meningkat hingga sepuluh kali lipat.
“Setelah didampingi PTAR, omzet saya meningkat. Awalnya sekitar Rp1 juta sampai Rp2 juta per bulan, sekarang bisa mencapai Rp10 juta sampai Rp20 juta per bulan,” ujar Dian kepada Antara di Batang Toru, Rabu.
Dari Kue Ulang Tahun hingga Snack Box
Dian menuturkan, dukungan PTAR tidak hanya berupa pelatihan keterampilan, tetapi juga bantuan peralatan produksi. Ia menerima oven berkapasitas besar dan kemasan snack box yang membuat produknya semakin beragam.
“Awalnya saya hanya membuat cake ulang tahun. Setelah mendapat pendampingan, saya belajar membuat kue basah, roti dan bolu gulung yang kemudian menjadi bagian dari produk snack box,” katanya.
Selain keterampilan produksi, Dian juga dibekali pelatihan manajemen usaha. Materi yang diberikan mencakup pelatihan 5R—ringkas, rapi, resik, rawat dan rajin—serta pembukuan sederhana dan digital marketing.
Dapur Produksi dan Legalitas Usaha Dibantu
Cerita serupa datang dari Rohima Hasibuan, pelaku UMKM keripik yang telah mendapat pembinaan sejak sekitar 2022. Bantuan yang diterimanya lebih menyentuh infrastruktur, yakni pembangunan dapur produksi dan pengurusan legalitas usaha.
“Dapur produksi saya sudah dibangun PTAR dan legalitas usaha juga dibantu, mulai dari NIB sampai halal,” kata Rohima di hadapan Nurlaila, Senior Supervisor SME Agincourt Resources.
Dengan legalitas yang lengkap, Rohima kini berupaya memperluas pemasaran produknya agar bisa masuk ke berbagai toko dan supermarket. Peluang itu mulai terbuka setelah produknya diuji coba di salah satu toko di Padangsidimpuan dan menerima pesanan 20 bungkus untuk dikirim ke Jakarta.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski omzet meningkat, Dian masih menghadapi sejumlah kendala. Ia belum memiliki dapur produksi khusus dan pencatatan keuangan usaha yang masih bercampur dengan keuangan pribadi. Targetnya ke depan, omzet usaha bisa mencapai Rp300 juta per bulan sekaligus menguasai pasar snack box di Tapanuli Selatan.
Sementara itu, Rohima mengaku masih menyiapkan kemasan yang aman untuk pengiriman jarak jauh. Produk keripiknya rentan mengalami kerusakan selama proses distribusi.
Kedua pelaku UMKM berharap pendampingan PTAR dapat terus mendorong UMKM binaan untuk naik kelas, sehingga produk lokal Tapanuli Selatan mampu menembus pasar yang lebih luas, termasuk supermarket dan pasar di luar daerah.