SUMATERA UTARA — Persaingan kinerja keuangan empat emiten bank BUMN—Bank Mandiri, Bank BTN, Bank BNI, dan Bank BRI—pada paruh pertama 2026 menghasilkan peta yang menarik. Meski seluruhnya mencatat pertumbuhan laba, laju dan sumber pendorongnya berbeda-beda. Bank Mandiri unggul dari sisi nominal, sementara Bank BTN mencatatkan akselerasi persentase tertinggi.
Data yang dihimpun hingga Sabtu (8/8/2026) menunjukkan bank pelat merah masih mampu menjaga profitabilitas di tengah ekspansi kredit yang agresif. Berikut rincian kinerja masing-masing emiten.
Mandiri Kokoh di Puncak, Ditopang Ekspansi Kredit
Bank Mandiri mempertahankan posisinya sebagai pencetak laba terbesar. Sepanjang Januari–Juni 2026, emiten berkode BMRI ini membukukan laba bersih Rp 30,4 triliun, tumbuh 24,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pendorong utamanya adalah penyaluran kredit yang solid, tumbuh 19,9 persen secara tahunan. Angka ini menegaskan permintaan pembiayaan korporasi dan ritel yang tetap kuat, meskipun suku bunga acuan masih berada di level tinggi.
BTN Jadi Jawara Pertumbuhan, Transformasi Bisnis Berbuah
Jika bicara soal laju pertumbuhan, Bank BTN keluar sebagai juaranya. Laba bersih BBTN melesat 40,8 persen secara tahunan menjadi Rp 2,40 triliun—pertumbuhan tertinggi di antara empat emiten bank BUMN.
Kinerja ini tidak lepas dari transformasi bisnis yang dijalankan perseroan. Selain pertumbuhan kredit perumahan yang stabil, BTN berhasil menekan biaya dana (cost of fund) ke level 3,01 persen. Efisiensi ini menjadi kunci utama di tengah persaingan likuiditas yang ketat.
BNI Tumbuh Paling Lambat, Kredit Agresif tapi Margin Tertekan
Di sisi lain, Bank BNI (BBNI) mencatat pertumbuhan laba paling moderat. Laba bersihnya mencapai Rp 10,75 triliun pada semester pertama 2026, hanya naik 6,56 persen secara tahunan.
Perlambatan ini terjadi meskipun penyaluran kredit BNI tumbuh sangat agresif hingga 24,4 persen. Penyebabnya, margin bunga bersih (NIM) tertekan menjadi 3,55 persen akibat kenaikan biaya bunga. Artinya, ekspansi kredit yang besar belum sepenuhnya mampu mengimbangi kenaikan beban dana.
Kondisi ini menjadi gambaran dilema yang dihadapi perbankan: mengejar pertumbuhan kredit tinggi sering kali harus dibayar dengan margin yang lebih tipis. Sementara itu, bank-bank seperti Mandiri dan BTN menunjukkan bahwa efisiensi biaya dana menjadi pembeda utama dalam menjaga profitabilitas.
Ke depan, kemampuan masing-masing bank dalam mengelola likuiditas dan menekan biaya dana akan menentukan siapa yang mampu mempertahankan momentum pertumbuhan hingga akhir tahun.