MEDAN — Perhimpunan ekonomi Sumatera Utara pada akhir tahun ini diproyeksikan mencatatkan akselerasi di tengah perlambatan ekonomi global. Bank Indonesia (BI) menargetkan pertumbuhan berada di rentang 4,9% hingga 5,7%, didorong oleh efek basis rendah serta normalisasi aktivitas produksi yang sempat terganggu bencana alam pada tahun lalu.
“Kami masih meyakini tahun 2026 ini, sampai akhir tahun, Sumatera Utara masih bisa tumbuh antara 4,9% sampai 5,7%. Jadi bisa dikatakan pertumbuhan 2026 ini akan lebih baik daripada 2025,” ujar Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Utara, Ameriza Ma’ruf Moesa, Jumat (7/8/2026).
Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Realisasi Triwulan II-2026 menjadi bukti awal resiliensi ekonomi Sumut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Sumut tumbuh 5,06% secara tahunan (yoy), naik dari 4,98% pada triwulan sebelumnya.
Ekspor CPO Melesat Hingga 7,39 Persen
Lonjakan kinerja ekspor menjadi mesin utama pertumbuhan. Permintaan pasar global terhadap minyak kelapa sawit (CPO) yang tinggi membuat ekspor Sumut melesat dari 2,67% menjadi 7,39%.
“Prospek produksi dan harga minyak kelapa sawit (CPO) sebagai komoditas unggulan Sumut diproyeksikan tetap kuat serta berdaya saing di pasar global,” kata Ameriza.
Efek berantai dari ekspor ini langsung terasa di sektor riil. Industri pengolahan tercatat tumbuh dari 1,53% menjadi 1,96%, sementara sektor pertanian ikut menguat dari 0,41% ke 1,61%. Geliat investasi juga menunjukkan tren positif dengan lonjakan signifikan dari Rp301 miliar menjadi Rp545 miliar.
Proyek Strategis dan Event Nasional Dongkrak Ekonomi Lokal
Selain faktor eksternal, berlanjutnya proyek pemerintah turut menjadi penopang. Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), Proyek Strategis Nasional (PSN), serta pengembangan kawasan industri dan KEK disebut BI Sumut sebagai katalis pertumbuhan jangka menengah.
Di sisi lain, maraknya penyelenggaraan acara berskala nasional dan internasional di Sumut, seperti Munas Apeksi hingga turnamen sepak bola AFF, terbukti mendongkrak aktivitas ekonomi lokal. Ameriza mendorong Kota Medan untuk memanfaatkan posisi geografisnya yang dekat dengan Malaysia dan Singapura guna memperkuat sektor pariwisata berbasis MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).
Inflasi Sumut Diproyeksikan Kembali ke Target BI
Setelah sempat menembus 4,66% pada tahun lalu akibat dampak bencana dan dinamika harga, tekanan inflasi di Sumut kini diperkirakan mereda. BI Sumut memproyeksikan tingkat inflasi daerah akan kembali masuk ke sasaran target 2,5% ± 1%.
“Tahun lalu inflasi Sumut berada di angka 4,66% atau di atas target akibat dampak bencana dan dinamika harga. Namun untuk tahun 2026 ini, kami perkirakan inflasi akan kembali normal,” pungkas Ameriza.
Konsumsi rumah tangga yang terjaga, ditopang peningkatan kunjungan wisatawan serta pengeluaran pemerintah, disebut sebagai penyangga utama pertumbuhan dari sisi permintaan sepanjang tahun ini.