MEDAN — Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IAI 2026 resmi digelar di Ballroom Hotel Santika, Medan, pada Kamis hingga Sabtu (6-8 Agustus 2026). Mengusung tema "One Health, One Pharmacy, Synergy for National Resilience", forum ini menjadi ajang memperkuat kolaborasi lintas sektor di tengah meningkatnya tantangan penyakit dan pesatnya teknologi kefarmasian.
Wakil Gubernur Sumatera Utara H. Surya membuka kegiatan secara resmi mewakili Gubernur. Dalam sambutannya, ia menilai kepercayaan menjadikan Sumut sebagai tuan rumah merupakan momentum strategis bagi daerah.
"Kami berharap pertemuan ilmiah ini tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga menjadi ruang lahirnya inovasi, kolaborasi, dan rekomendasi kebijakan yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan kesehatan Indonesia," ujarnya.
Janji BPOM: Regulasi Disusun Bersama IAI
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD., Ph.D., yang hadir sebagai keynote speaker, menegaskan komitmennya untuk bersinergi dengan Pengurus Pusat IAI. Ia berjanji melibatkan para apoteker dalam proses penyusunan berbagai peraturan di bidang obat dan makanan.
"Dalam membuat peraturan-peraturan atau regulasi, saya janji akan melibatkan teman-teman Ikatan Apoteker Indonesia," tegas Taruna di hadapan Ketua PP IAI Lilik Yusuf Indrajaya, Ketua IAI Sumut Agustama, dan Ketua Panitia apt. Ahmad Sofan, M.Farm.
Menurut Taruna, keterlibatan IAI sangat dibutuhkan untuk memperkuat riset dan pengembangan obat baru. Saat ini, sekitar 94 persen bahan baku obat kimia masih bergantung pada impor. Untuk bahan baku obat biologik dan biosimilar, ketergantungannya mencapai 100 persen dari luar negeri.
"Dorongan dari asosiasi profesi untuk research and development, transfer teknologi, dan pengembangan obat-obat baru sangat kita butuhkan," katanya.
Peran Strategis Apoteker di Tengah Ancaman Resistensi Antibiotik
Taruna menilai profesi apoteker memiliki peran fundamental yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Peran tersebut mencakup seluruh rantai pengelolaan obat, mulai dari penyediaan bahan baku, penelitian, produksi, distribusi, hingga pemanfaatan di fasilitas pelayanan kesehatan.
"Peran apoteker sangat urgen, sangat penting, sangat esensial," tegasnya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang membuka acara secara daring melalui Zoom Meeting mengingatkan ancaman resistensi antimikroba akibat penggunaan antibiotik yang tidak terkendali. Ia menyebut kondisi ini bisa berakibat fatal bagi generasi mendatang.
"Saya sangat takut jangan sampai generasi muda sesudah kita menjadi resisten terhadap antibiotik. Begitu ada penyakit infeksi, mereka tidak bisa kita selamatkan," kata Budi.
Industri Farmasi Bertransformasi ke Teknologi Bioteknologi
Menkes juga menyoroti perubahan wajah industri farmasi global dari obat berbasis kimia menuju obat berbasis bioteknologi. Perkembangan ini mencakup produk biologik, biosimilar, monoclonal antibodies, protein inhibitor, GLP-1, dan PCSK9 inhibitor.
Karena itu, apoteker didorong terus meningkatkan kapasitas agar mampu mengikuti perkembangan teknologi tersebut.
"Mari kita bangun industri obat yang baik, yang sehat, yang maju, yang modern sehingga masyarakat Indonesia semakin sehat, lebih sedikit yang sakit," ujar Budi.
Taruna menambahkan, sinergi yang kuat antara BPOM dan IAI akan memperkuat peran negara dalam melindungi masyarakat. Sebagian besar pelaku industri maupun distributor farmasi merupakan anggota IAI, sehingga pengawasan obat diharapkan bisa berjalan lebih optimal.
"Jika Badan POM bersinergi dengan kuat dengan Ikatan Apoteker Indonesia, maka saya yakin peran kami sebagai pengayom masyarakat dan penjamin keamanan, ketersediaan, kualitas, dan efikasi obat dapat dilaksanakan secara lebih maksimal," pungkasnya.