SIMALUNGUN — Kenaikan harga bahan bangunan dalam beberapa pekan terakhir memukul masyarakat dan pelaku usaha panglong di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Lonjakan harga yang mencapai 100 persen membuat sejumlah warga menunda rencana pembangunan maupun renovasi rumah.
Berdasarkan pantauan di salah satu toko material di Balimbingan, Kecamatan Tanah Jawa, Kamis (30/7/2026), hampir seluruh kebutuhan bangunan mengalami kenaikan antara 15 hingga 20 persen. Lonjakan paling ekstrem terjadi pada harga seng yang melonjak dua kali lipat dari Rp31.000 menjadi Rp61.000 per meter.
Harga Semen dan Besi Ikut Merangkak Naik
Pemilik panglong, Sopian Silalahi, merinci sejumlah harga material yang naik signifikan. Harga semen kini mencapai Rp70.000 per sak dari sebelumnya Rp50.000. Batu bata juga naik dari Rp400 menjadi Rp500 hingga Rp600 per biji.
"Hanya batu padas yang masih bertahan di harga Rp400 per biji. Yang paling tinggi kenaikannya adalah seng, sekarang sudah Rp61.000 per meter, sebelumnya hanya Rp31.000," ujar Sopian kepada Sinata.id.
Selain itu, harga pasir naik menjadi Rp250.000 per truk dari sebelumnya Rp200.000. Besi ukuran standar dan cat minyak kini dijual sekitar Rp70.000 dari harga sebelumnya Rp50.000, sementara cat tembok meningkat dari Rp90.000 menjadi Rp100.000 per kaleng.
Omzet Pedagang Turun, Warga Tunda Bangun Rumah
Lonjakan harga ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Banyak pelanggan yang memilih menunda pembangunan karena biaya material yang terlalu tinggi.
"Omzet turun drastis. Banyak pelanggan membatalkan pembelian atau menunda pembangunan karena harga material sudah terlalu mahal," kata Sopian.
Para pelaku usaha berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga material bangunan agar daya beli masyarakat kembali pulih.
Disdag Simalungun Akui Belum Punya Tim Pemantau
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Simalungun, Freddy Saragih, mengakui pihaknya belum memiliki tim khusus untuk memantau harga bahan bangunan di lapangan.
"Izin bang, untuk bahan bangunan belum ada tim pemantau di lapangan. Yang ada saat ini tim pemantau bahan pokok yang melakukan pembaruan setiap hari. Kebetulan saya masih baru, nanti perihal ini akan saya diskusikan dengan pimpinan," ujarnya melalui pesan WhatsApp, Jumat (31/7/2026).
Pernyataan ini memunculkan harapan agar pemerintah daerah segera membentuk mekanisme pemantauan harga bahan bangunan. Pasalnya, fluktuasi harga yang tidak terkendali berpotensi memperlambat sektor konstruksi dan memberatkan ekonomi warga di Kabupaten Simalungun.