MEDAN — Empat warga Medan yang baru selesai joging memanfaatkan waktu luang di Warung Kopi Wak Dollah untuk merenungkan makna kehidupan, Ahad pagi. Diskusi yang dimulai dengan candaan soal dengkul yang mulai 'pensiun' itu berubah menjadi peringatan keras tentang bahaya tertipu oleh kesibukan duniawi.
Dari Candaan soal Dengkul hingga Renungan Akhirat
Dadang Narto, yang mengeluh kelelahan setelah joging dua jam, langsung disambut guyonan Mbak Lastri. "Halah, Kang Dadang mah kebanyakan duduk di bangku taman sambil ngeliatin orang jualan jajan! Tadi aja gayanya paling semangat pas start jam 7, giliran jam 8 lewat udah nyari-nyari tukang bubur ayam," ujar Mbak Lastri.
Namun, obrolan ringan itu berubah serius saat Pak Dermawan angkat bicara. Ia mengingatkan bahwa banyak orang kini terjebak dalam ritme cepat kehidupan, mengejar target dan karier hingga lupa waktu. "Giliran sukses, yang dinikmati cuma struk tagihan rumah sakit karena asam lambung naik atau kolesterol tinggi. Kita sering ketipu sama yang namanya 'sibuk' urusan dunia," ujar Pak Dermawan.
Arief Bawa Surah Al-Hadid Ayat 20: Dunia Itu Memperdayakan
Arief, yang sejak tadi menyimak, membuka ponselnya dan membacakan pengingat dari Surah Al-Hadid ayat 20. Ia menjelaskan bahwa kehidupan dunia memang penuh dengan permainan, perhiasan, dan kemegahan yang pada ujungnya bisa memperdaya manusia jika tidak sadar akan akhirat.
Wak Dollah, pemilik warung, menimpali dengan hadits tentang lima perkara sebelum lima perkara. "Jangan sampai saking sibuknya nyari nafkah, kita lupa siapa yang ngasih rezeki dan kesehatan. Giliran rezeki lancar tapi ibadah bolong-bolong, ah… hati-hati, bisa jadi itu istidraj," kata Wak Dollah sambil meletakkan cangkir kopi panas.
Pisang Goreng dan Pesan Keseimbangan Hidup
Diskusi ditutup dengan candaan saat Dadang Narto 'mengamankan' kotak camilan milik Mbak Lastri. "Modal joging dua jam cuma buat ngabis-ngabisin cemilan!" ledek Mbak Lastri, disambut tawa seluruh pengunjung warung.
Meski berakhir dengan gelak tawa, percakapan di Warung Kopi Wak Dollah itu meninggalkan pesan mendalam: dunia hanyalah tempat singgah, dan kesuksesan materi harus diimbangi dengan ibadah serta menjaga amanah tubuh yang sehat.