SUMATERA UTARA — BYD Group mencatat penjualan 46.700 unit kendaraan listrik di Indonesia hingga September 2026, angka yang menempatkan merek asal Tiongkok tersebut sebagai pemimpin pasar mobil listrik untuk tahun keempat berturut-turut. Pencapaian ini turut mendorong pangsa kendaraan listrik nasional yang sebelumnya sangat kecil menjadi lebih dari seperempat pasar pada 2026.
Head of Marketing PT BYD Motor Indonesia Pramita Sari menyatakan capaian penjualan tersebut mencerminkan minat masyarakat yang terus naik terhadap kendaraan listrik. Pernyataan disampaikan di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Menurut Pramita, dominasi BYD di segmen mobil listrik bukan hasil sekali jalan. Sejak masuk pasar Indonesia, perusahaan konsisten memperluas lini produk dan jaringan penjualan di berbagai wilayah.
Perubahan paling mencolok terlihat pada struktur pasar. Kendaraan listrik yang dulu hanya menyumbang pangsa sangat kecil kini menguasai lebih dari seperempat total pasar otomotif Indonesia pada 2026.
Kehadiran BYD disebut ikut mempercepat pergeseran tersebut. Pangsa seperempat pasar menandakan kendaraan listrik bukan lagi ceruk, melainkan pilihan utama sebagian konsumen.
Pramita menilai ruang pertumbuhan masih terbuka lebar, terutama di luar Pulau Jawa. Sekitar 65% pasar kendaraan nasional masih didominasi mobil berbahan bakar fosil.
Untuk menembus wilayah tersebut, BYD mengandalkan dua pendekatan teknologi: pure electric vehicle (pure EV) dan dual mode (DM). Strategi ini ditujukan menjangkau konsumen dengan kebutuhan mobilitas yang beragam, termasuk mereka yang belum siap sepenuhnya beralih ke listrik murni.
Selain memperluas pasar, BYD memperkuat layanan purnajual. Perusahaan menyadari kekhawatiran konsumen di daerah terhadap ketersediaan bengkel resmi dan suku cadang.
"Dari total lebih dari 110 jaringan resmi di Indonesia, BYD saat ini mengoperasikan 7 titik lokasi di Pulau Sulawesi dan menargetkan penambahan hingga 12 lokasi baru ke depan," ucap Pramita Sari.
Ekspansi ke Indonesia Timur menjadi bagian dari upaya mendukung pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik yang selama ini terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra. Penambahan titik layanan diharapkan memangkas waktu tunggu servis dan meningkatkan kepercayaan konsumen daerah.
Posisi BYD sebagai pemimpin pasar mobil listrik tahun keempat memberi gambaran stabilitas, meski persaingan semakin ketat. Sejumlah merek Tiongkok lain dan pabrikan Jepang mulai agresif meluncurkan model listrik di segmen harga menengah.
Bagi konsumen, persaingan ini menguntungkan karena mendorong variasi model, penyesuaian harga, dan perbaikan layanan purnajual. Bagi BYD, mempertahankan pangsa pasar akan bergantung pada kecepatan ekspansi jaringan dan kemampuan menghadirkan model yang sesuai kantong konsumen daerah.