SUMATERA UTARA — PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merampungkan akuisisi Mount Margaret Mining Pty Ltd asal Queensland, Australia, senilai USD22 juta atau hampir Rp400 miliar pada 23 Oktober 2026. Langkah ini menandai ekspansi BUMI ke komoditas tembaga dan emas, di luar bisnis batu bara yang selama ini menjadi tulang punggung perseroan.
Transaksi akuisisi dijalankan lewat Bumi Resources Australia Pty Ltd (BRA), anak usaha yang didirikan berdasarkan hukum Australia dan seluruh sahamnya dimiliki BUMI. BRA mengambil alih dua saham Mount Margaret yang mewakili seluruh saham diterbitkan perusahaan tambang tersebut.
Direktur PT Bumi Resources Tbk, R.A. Sri Dharmayanti, menyatakan bahwa lewat transaksi itu BUMI secara tidak langsung melalui BRA menggenggam 100 persen saham Mount Margaret. Pernyataan itu disampaikan dalam keterbukaan informasi kepada bursa.
"Dengan transaksi ini, BUMI secara tidak langsung melalui BRA memiliki 100 persen saham Mount Margaret," kata Sri Dharmayanti, dikutip dari keterbukaan informasi, Senin (26/10/2026).
Mount Margaret merupakan perusahaan tambang tembaga dan emas yang berbasis di Queensland, Australia. Perusahaan ini mengelola lahan seluas 3.412 hektare dengan cadangan mineral sekitar 13 juta ton bijih.
Kadar mineralnya tercatat 0,78 persen tembaga dan 0,24 gram per ton emas. Angka itu memberi gambaran kualitas bijih yang akan diolah BUMI lewat entitas barunya di Australia.
Nilai akuisisi USD22 juta setara hampir Rp400 miliar dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS. Nominal itu relatif kecil dibanding skala aset BUMI sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia, tetapi memberi pintu masuk ke rantai pasok mineral kritis.
Tembaga menjadi komoditas yang diburu seiring pertumbuhan kendaraan listrik, panel surya, dan jaringan transmisi listrik. Emas, sementara itu, tetap jadi aset lindung nilai yang permintaannya stabil di pasar global.
Bagi BUMI, kepemilikan tambang di Australia berarti perseroan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada batu bara. Diversifikasi ini penting ketika harga batu bara termal berfluktuasi dan tekanan transisi energi makin terasa di pasar ekspor.
Australia juga dikenal punya rezim pertambangan yang mapan dan dekat dengan pasar Asia. Posisi Queensland memudahkan pengiriman konsentrat tembaga ke pembeli di China, Jepang, dan Korea Selatan.
BUMI belum memerinci rencana produksi maupun belanja modal untuk Mount Margaret. Yang jelas, BRA sebagai pemegang saham penuh akan menjalankan kendali operasional atas lahan konsesi seluas 3.412 hektare tersebut.
Pasar akan menantikan bagaimana perseroan mengintegrasikan tambang baru ini ke dalam laporan keuangannya, termasuk potensi kontribusi pendapatan dari segmen non-batu bara pada periode mendatang.
Akuisisi senilai hampir Rp400 miliar ini menempatkan BUMI pada peta produsen tembaga dan emas, bukan sekadar pemain batu bara. Jika cadangan 13 juta ton bijih itu bisa dikonversi menjadi produksi komersial, diversifikasi BUMI punya pijakan nyata, bukan sekadar wacana di atas kertas.