MEDAN — Rico Waas menyampaikan hal itu dalam sambutan peringatan satu abad Buddhis Tamil Nusantara yang turut dihadiri pejabat nasional dan daerah. Menurutnya, setiap warga memiliki hak setara untuk mendapat perhatian dan berkontribusi dalam pembangunan kota.
Di hadapan para tamu undangan, Rico mengibaratkan Kota Medan sebagai taman yang ditumbuhi berbagai jenis bunga dengan aneka warna. Perpaduan warna itu, katanya, menghadirkan keindahan tersendiri yang membuat kehidupan sosial lebih dinamis.
Perbedaan dinilai tidak boleh menjadi sekat pemisah antarwarga. Kemajemukan justru menciptakan kekayaan kebudayaan dan menumbuhkan sikap saling pengertian di tengah masyarakat.
"Karena ada perbedaan tersebut, kita kaya akan kebudayaan. Kita bisa saling mengerti," ujarnya.
Acara peringatan satu abad tersebut dihadiri Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI Supriyadi dan Pembimas Buddha Sumatera Utara Sukasdi. Hadir pula Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Buddhis Tamil Nusantara Subramaniam bersama jajaran pengurus.
Rico mengapresiasi kontribusi panjang masyarakat Tamil yang turut membentuk identitas sejarah Kota Medan. Tradisi hidup berdampingan di Medan, menurutnya, sudah teruji lewat kebiasaan saling merayakan hari besar keagamaan seperti Imlek, Deepavali, Idulfitri, Iduladha, hingga Natal, serta penggunaan pakaian adat dari berbagai etnis.
Semangat kebersamaan dalam kemajemukan melahirkan slogan "Medan untuk Semua". Pemerintah Kota Medan berkomitmen menjamin hak dan kesempatan setara bagi seluruh warga tanpa memandang latar belakang suku maupun agama.
Pemerintah membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat Buddhis Tamil Nusantara untuk menyampaikan aspirasi. Warga diminta tidak ragu melaporkan persoalan mendasar, mulai dari infrastruktur, pendidikan, hingga administrasi kependudukan.
"Kami ingin mendengar setiap orang yang ada di Kota Medan ini. Karena kami ingin merajut keberagaman ini. Karena keberagaman itu indah," pungkasnya.