Upacara Hari Santri Nasional di Medan, Wali Kota Ajak Santri Kuasai Teknologi untuk Indonesia Emas 2045

Penulis: Saiful  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 10:46:31 WIB
Wali Kota Medan Muhammad Sofyan membacakan sambutan Menteri Agama pada upacara Hari Santri Nasional tingkat Kota Medan.

MEDAN — Upacara tingkat Kota Medan itu mengusung tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Muhammad Sofyan membacakan sambutan Menteri Agama Nasaruddin Umar di hadapan peserta upacara yang terdiri dari santri dan pimpinan pondok pesantren se-Kota Medan.

Hadir dalam kegiatan itu Kepala Kantor Kemenag Kota Medan Impun Siregar, Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum, dan Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Medan Agus Maryono. Sejumlah pimpinan pondok pesantren turut menyaksikan jalannya upacara.

Santri Diminta Tak Berhenti di Tradisi Keilmuan

Dalam amanatnya, Wali Kota menekankan santri tidak cukup hanya menjaga nilai-nilai keislaman. Santri juga dituntut menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi agar mampu bersaing di masa depan.

Menurut Sofyan, tantangan santri kini berbeda dengan generasi pendahulu. Jika dulu santri berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, kini perjuangan itu dilanjutkan lewat penguasaan ilmu dan penguatan akhlak.

"Jika dahulu para santri turut berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, kini perjuangan tersebut harus dilanjutkan melalui penguasaan ilmu, pengembangan teknologi, inovasi, serta penguatan akhlak dan integritas," ujar Sofyan membacakan amanat Menag.

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 Jadi Rujukan Sejarah

Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober merujuk pada Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Seruan itu membangkitkan semangat umat Islam mempertahankan kemerdekaan.

Perlawanan rakyat yang digerakkan resolusi tersebut mencapai puncaknya dalam peristiwa 10 November 1945. Sejarah itu, kata Sofyan, menjadi pengingat bahwa santri bukan hanya penjaga nilai agama, melainkan bagian penting perjalanan bangsa.

"Salah satu tonggak penting perjuangan tersebut adalah Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945," imbuhnya.

Penghormatan ke Ulama Diwujudkan Lewat Karya Nyata

Pemkot Medan menilai penghormatan terhadap jasa ulama dan pendahulu tidak cukup lewat upacara seremonial. Penghormatan itu harus diwujudkan dalam pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi negara.

Amanat Menag juga mengajak santri mempersiapkan diri menghadapi Indonesia Emas 2045, saat Indonesia genap berusia 100 tahun. Cita-cita bangsa maju dan berdaya saing membutuhkan sumber daya manusia unggul yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Nilai-nilai agama diharapkan menjadi sumber inspirasi untuk menyebarkan kedamaian, menjaga kelestarian bumi, dan membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik," jelasnya.

Perbedaan Diminta Disikapi dengan Semangat Persaudaraan

Dalam amanat tersebut, perbedaan dipandang sebagai bagian kehidupan berbangsa yang perlu dirawat. Semangat persaudaraan dan kebersamaan menjadi kunci menjaga kerukunan di tengah masyarakat.

Menutup amanatnya, Menteri Agama mengajak seluruh santri dan keluarga besar pesantren menjaga tradisi, mengembangkan inovasi, dan memperkuat persaudaraan. Pesan itu disampaikan sebagai bekal menyongsong masa depan bangsa.

"Selamat Hari Santri Tahun 2026. Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas!" demikian pesan penutup amanat tersebut.

Reporter: Saiful
Sumber: mimbarumum.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top