MEDAN — Polda Sumut memastikan sepuluh personel yang dikerahkan bukanlah sopir truk biasa. Kepala Biro Operasi (Karo Ops) Polda Sumut Kombes Pol Dwi Tunggal Jaladri menegaskan mereka telah mengikuti pelatihan khusus pengoperasian kendaraan tangki BBM, termasuk prosedur keselamatan dan standar operasional distribusi.
"Anggota yang kami siapkan sudah memiliki kualifikasi dan pernah mengikuti pelatihan. Jadi bukan karena bisa mengemudikan truk kemudian langsung ditugaskan," ujar Kombes Dwi di Medan, Kamis.
Pelatihan bagi personel ini ternyata bukan program baru. Kombes Dwi mengungkapkan bahwa pembekalan kemampuan mengemudikan truk tangki telah berlangsung sejak penanganan gangguan distribusi BBM akibat bencana alam di Sibolga, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan pada 2025 silam. Pengalaman itu membuat mereka siap diterjunkan kapan saja.
"Pengalaman tersebut membuat personel siap diterjunkan sewaktu-waktu ketika dibutuhkan untuk membantu kelancaran distribusi energi," kata dia.
Pengerahan personel ini merupakan hasil rapat koordinasi antara Polda Sumut, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara. Salah satu temuan krusial dalam rapat tersebut adalah menurunnya jumlah awak mobil tangki (AMT) yang menjadi tulang punggung distribusi BBM dari depot ke SPBU.
Kombes Dwi menyebut pihaknya akan terus memperkuat koordinasi dengan Pertamina, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat normalisasi distribusi. "Kami akan terus mendukung setiap langkah percepatan distribusi agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik," ucapnya.