MEDAN — Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara mengambil langkah cepat dengan menggandakan volume penyaluran beras SPHP menjadi 350 ton per hari. Kebijakan ini berlaku mulai bulan ini, naik signifikan dari angka normal yang berkisar 150 hingga 200 ton per hari.
Kepala Wilayah Perum Bulog Sumatera Utara Budi Cahyanto menyebutkan bahwa keputusan ini diambil untuk mengantisipasi potensi gejolak harga di pasar. "Pada bulan ini, kami meningkatkan penyaluran beras SPHP kepada sejumlah mitra menjadi 350 ton per hari, dari sebelumnya sekitar 150 hingga 200 ton per hari," ujarnya di Medan, Selasa.
Lonjakan penyaluran ini dipicu oleh kenaikan harga gabah di tingkat petani yang kini mencapai Rp7.000 hingga Rp7.500 per kilogram. Kondisi ini terjadi karena Sumatera Utara belum memasuki musim panen. Budi memperkirakan panen raya baru akan berlangsung pada Agustus hingga September mendatang.
"Kenaikan itu terjadi, karena saat ini belum memasuki musim panen. Kami memperkirakan musim panen akan berlangsung pada Agustus hingga September," jelasnya.
Penyaluran beras SPHP dilakukan melalui berbagai kanal resmi. Bulog memanfaatkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), jaringan Rumah Pangan Kita (RPK), serta menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di sejumlah titik. Masyarakat diimbau tidak panik dan melakukan pembelian berlebihan.
Budi memastikan harga jual beras SPHP tetap mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp13.100 per kilogram. "Kami mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan, karena Bulog terus menyalurkan beras SPHP secara bertahap melalui jaringan pengecer resmi," ucapnya.
Bulog Sumut saat ini menguasai stok beras sebanyak 51.000 ton. Jumlah tersebut dinilai cukup aman dan diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Sumatera Utara hingga delapan bulan ke depan. Cadangan ini masih berpotensi bertambah melalui pasokan tambahan dari Bulog pusat untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.
"Stok beras tersebut cukup aman dan diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Sumatera Utara hingga sekitar delapan bulan," pungkas Budi.