MEDAN — Panggung Keong Tapian Daya di Jalan Gatot Subroto, Medan, berubah menjadi pusaran budaya Kepulauan Nias pada Sabtu (11/7/2026) malam. Rangkaian Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 diisi dengan Malam Pesona Nias Selatan, sebuah pertunjukan yang menampilkan tari kreasi, Maena, atraksi Hombo Batu, hingga Famadaya Harimao.
Di tengah kemeriahan acara, Anggota DPRD Sumut dari Daerah Pemilihan Kepulauan Nias, Pdt. Berkat Laoli, menyampaikan pesan politik yang tegas. Ia meminta agar dana partisipasi untuk kabupaten/kota dalam ajang PRSU tidak ikut diefisiensi dalam kebijakan penghematan anggaran daerah.
“Dana yang dikelola Dinas Pariwisata di kabupaten/kota jangan diefisiensi untuk kegiatan seperti ini. Dengan dukungan anggaran yang memadai, daerah dapat menampilkan budaya dan potensi terbaiknya secara lebih spektakuler karena event seperti ini memang membutuhkan pembiayaan,” ujar Berkat Laoli, Selasa (14/7/2026).
Bupati Nias Selatan Sokhiatulo Laia yang turut hadir dalam acara tersebut menegaskan komitmen pemerintahannya untuk terus mengembangkan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM. Menurutnya, pelestarian budaya menjadi bagian integral dari strategi pembangunan daerah.
“Kami mengajak seluruh masyarakat Sumatera Utara, wisatawan nusantara maupun mancanegara untuk berkunjung ke Nias Selatan, menikmati keindahan alamnya, mengenal budayanya, serta merasakan langsung keramahan masyarakatnya,” kata Sokhiatulo Laia.
Malam Pesona Nias Selatan tidak hanya diisi pertunjukan seni. Acara itu juga dihadiri oleh Bupati Nias Selatan Sokhiatulo Laia, Wakil Bupati Ir. Yusuf Nache, Penjabat Sekda Nias Selatan Amsarno S. Sarumaha, serta jajaran Forkopimda. Ketua Dewan Kesenian Sumatera Utara dan Ketua Dewan Kebudayaan Sumatera Utara juga tercatat hadir.
Pdt. Berkat Laoli mengapresiasi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang terus menyelenggarakan PRSU sebagai wadah promosi budaya dan potensi daerah. Ia juga memuji Pemerintah Kabupaten Nias Selatan yang terus memperbarui atraksi budayanya setiap tahun.
“Kita mengapresiasi Nias yang kembali memperkenalkan atraksi budaya dan terus melakukan pembaruan sesuai potensi yang ada di Nias Selatan. Memang masih ada yang perlu dibenahi, namun saya yakin pemerintah daerah akan terus melakukan perubahan dan meningkatkan sektor pariwisata di Nias Selatan,” ujarnya.
Kekhawatiran Berkat Laoli soal efisiensi anggaran bukan tanpa alasan. Ia menilai, tanpa dukungan dana yang cukup, daerah peserta PRSU tidak bisa menampilkan potensi terbaiknya. Event seperti ini, menurutnya, membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit untuk panggung, kostum, hingga promosi.
“Dukungan anggaran yang memadai membuat daerah bisa tampil spektakuler. Jangan sampai efisiensi justru mematikan kreativitas daerah,” tegasnya.