Akademisi Kritik Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Usai Kembali Melontarkan Makian di Depan Publik

Penulis: Saiful  •  Kamis, 09 Juli 2026 | 19:55:01 WIB
Presiden Prabowo kembali melontarkan makian di depan publik dalam Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII.

SUMATERA UTARA — Peristiwa itu terjadi dalam Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo. Prabowo sempat meminta maaf atas umpatannya dan bergurau meminta panitia menghapus rekaman video. Namun, jejak digital peristiwa itu telah tersebar luas di media sosial.

Ini bukan kali pertama kepala negara melontarkan makian di forum publik. Pada Februari 2025, Prabowo juga mengucapkan kata serupa saat menepis isu yang menyebutnya sebagai boneka Presiden Joko Widodo.

Standar Etika di Puncak Kekuasaan

Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi UMM, membedah fenomena ini dari perspektif kepemimpinan. Ia mengakui bahwa istilah bahasa Jawa tersebut lazim terdengar saat seseorang merasa jengkel. Namun, status sebagai Presiden RI menuntut standar etika yang jauh lebih tinggi.

"Cara seseorang berbicara sering kali menunjukkan cara ia berpikir dan memimpin. Pemimpin yang tenang biasanya menjawab kritik dengan argumentasi berdasar data," tegas Nurudin dalam keterangan resmi yang dilansir laman UMM, Senin (6/7/2026).

Alarm bagi Bakom Istana

Berkaca dari kejadian yang berulang, Nurudin menekankan bahwa Istana wajib menata ulang strategi komunikasi publik. Dalam konteks ini, Bakom Pemerintah memikul beban berat untuk membenahi apa yang ia sebut sebagai kecacatan komunikasi.

Lingkaran dalam Istana, menurutnya, harus menyajikan fakta riil. Jangan sampai luapan emosi spontan berubah menjadi pesan politik nasional yang menggerus kepercayaan rakyat.

"Presiden membutuhkan menteri yang berani menyampaikan fakta, bukan sekadar kabar yang menyenangkan. Membutuhkan penasihat yang mampu mengatakan, 'Pak, data di lapangan tidak seperti itu,'" ujar Nurudin, menyinggung kualitas para pembisik di Istana.

Pesan Presiden Bermakna Jutaan Suara

Nurudin juga memperingatkan soal dampak dari cara penyampaian pesan. Program pemerintah sehebat apa pun, kata dia, akan seketika kehilangan dukungan jika dilandasi kekeliruan dalam penyampaian.

Sebaliknya, kebijakan sulit pun pasti mendulang simpati warga jika disampaikan dengan sentuhan persuasif. "Sebab setiap kata presiden memiliki makna. Pesannya bukan sekadar suara. Melainkan pesan yang didengar jutaan orang," pungkasnya.

Reporter: Saiful
Sumber: humasindonesia.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top