MEDAN — Aliest datang bukan sekadar menjadi pengunjung biasa. Bersama keluarga dan rekan-rekan senegaranya, ia sengaja menyisir setiap stan untuk melihat langsung apa yang ditawarkan 33 kabupaten dan kota se-Sumatera Utara. "Ini baru pertama kali saya di PRSU. Saya sangat senang ada di sini," ujarnya saat ditemui di Paviliun Kabupaten Dairi.
Salah satu perhentian yang menyita perhatian rombongan adalah Paviliun Kabupaten Dairi. Di sana, Aliest dan kawan-kawan mempelototi produk kopi unggulan daerah yang dikenal dengan nama Kopi Sidikalang. Tak hanya itu, aneka produk tenun khas Dairi juga turut menjadi daya tarik tersendiri bagi para bule tersebut.
"Ya, tentu saya ingin belajar lebih banyak tentang kebudayaan Sumatera Utara," kata Aliest yang terlihat fasih berbahasa Indonesia.
Sebelum mengunjungi stan Dairi, rombongan sematkan waktu di Paviliun Kabupaten Asahan. Mereka tertarik pada pakaian adat serta beragam kerajinan tangan yang dipajang, mulai dari tas, dompet, hingga pajangan balai bercorak kuning khas daerah tersebut. Penjaga stan Asahan, Fitri, mengaku para pengunjung asing itu sangat aktif bertanya.
"Mereka sangat antusias bertanya. Termasuk soal kerajinan tangan," kata Fitri.
PRSU ke-50 ini memang dirancang sebagai etalase bagi potensi daerah. Setiap kabupaten dan kota berlomba menampilkan produk unggulan mereka, mulai dari hasil bumi, kuliner, hingga seni dan kerajinan lokal. Bagi pengunjung asing seperti Aliest, ajang ini menjadi jendela untuk memahami kekayaan budaya Sumatera Utara secara langsung tanpa harus menjelajah ke seluruh pelosok daerah.
Kehadiran para bule ini sekaligus menunjukkan bahwa PRSU tidak hanya menjadi ajang transaksi ekonomi, tetapi juga ruang diplomasi budaya yang efektif. Dengan interaksi langsung seperti ini, produk lokal Sumut punya peluang lebih besar untuk dikenal di pasar internasional.