MEDAN — Pemerintah Jepang melalui Konsulat Jenderal di Medan kembali menunjukkan komitmennya dalam pemulihan bencana di Aceh. Kali ini, bantuan berupa delapan unit alat berat yang terdiri dari empat ekskavator dan empat truk resmi diserahkan kepada Yayasan Sekolah Laboratorium Syiah Kuala.
Bantuan tersebut merupakan bagian dari program hibah Grant Assistance for Grassroots Human Security Projects (GGHSP) senilai USD 452.357. Konsul Jenderal Jepang di Medan, Furugori Toru, meresmikan langsung penyerahan alat berat itu di halaman sekolah, Rabu (1/6).
Furugori Toru mengatakan, alat berat ini diharapkan dapat mempercepat proses pembersihan lahan saat bencana alam terjadi di Provinsi Aceh. "Bantuan ini merupakan bentuk kerja sama, dukungan, dan kepedulian masyarakat Jepang kepada masyarakat Indonesia," ujarnya dalam sambutan.
Ia menambahkan, Jepang telah lama terlibat dalam pemulihan bencana di Aceh, termasuk rekonstruksi perumahan, gedung sekolah, dan infrastruktur dasar pascagempa bumi dan tsunami besar pada 2004. Komitmen itu berlanjut dengan pembangunan Pusat Edukasi Tsunami di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, yang diresmikan pada Desember 2024.
Acara penyerahan dihadiri Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan Universitas Syiah Kuala, Dr. Rina Suryani Oktari, serta Ketua Pembina Yayasan Sekolah Laboratorium Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Marwan. Turut hadir Ketua Pelaksana Bidang Penanggulangan Bencana Aceh Bahron Bakti, ST., MT., serta Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.
Bantuan hibah GGHSP dari Pemerintah Jepang kepada masyarakat Indonesia bertujuan mengatasi permasalahan kebutuhan dasar manusia di berbagai bidang, termasuk kesehatan, sosial, pendidikan, dan lingkungan. Furugori berharap hubungan persahabatan dan kerja sama Jepang-Indonesia semakin erat ke depannya melalui program-program semacam ini.