MEDAN — Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah dinilai bukan sekadar sekolah biasa. Agus Suriadi, akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU, menekankan bahwa model pendidikan dengan sistem asrama menjadi pembeda utama dari sekolah reguler.
"Saya memandang kehadiran Sekolah Rakyat sebagai langkah strategis dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi di Sumut," ujar Agus di Medan, Sabtu.
Menurutnya, pendidikan yang baik secara teoretis mampu membuka peluang kerja yang lebih baik. Dengan begitu, anak-anak dari keluarga miskin tidak lagi terjebak dalam siklus kemiskinan yang sama seperti orang tua mereka.
Agus menyebut, sistem asrama di Sekolah Rakyat berpotensi memberikan mobilitas sosial yang lebih baik. Siswa yang tinggal di asrama akan mendapat pendampingan yang lebih intensif dari para pembina.
"Ditambah dengan fasilitas pendidikan modern dan pembelajaran berbasis digital, hal itu dapat membantu mengurangi kesenjangan pendidikan antara anak dari keluarga miskin dan keluarga mampu," ujarnya.
Ia menambahkan, akses terhadap teknologi dan metode pembelajaran yang inovatif juga dapat meningkatkan kompetensi siswa. Hal ini diyakini akan membuat mereka lebih siap bersaing di dunia kerja.
Lebih lanjut, Agus mengingatkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada sekolah. Menurutnya, komunikasi yang baik antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi faktor krusial.
"Komunikasi yang baik baik dari sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang positif," ucapnya.
Ia menilai, ekosistem positif itu akan mendukung tumbuh kembang siswa secara maksimal, baik dari segi akademik maupun karakter.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah memulai pembangunan Sekolah Rakyat di sejumlah daerah. Lokasi tersebut tersebar di Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Tapanuli Selatan, dan Kota Padangsidempuan.
Kehadiran sekolah ini diharapkan bisa menjadi solusi konkret menekan angka kemiskinan yang masih menjadi pekerjaan rumah di Sumut. Data menunjukkan, angka kemiskinan di Kota Medan berada di kisaran 7,25 persen, sedikit di atas rata-rata provinsi.