Setelah hampir enam tahun tanpa pembaruan, Google akhirnya mengganti Nest Audio dengan Google Home Speaker. Perangkat ini dijual seharga 99 dolar AS dan tersedia dalam empat pilihan warna: Jade (hijau), Berry (merah), Porcelain (putih), dan Hazel (abu-abu gelap). Namun, varian Jade dan Berry hanya dipasarkan di Amerika Serikat. Di gerai online Google, baik Nest Audio maupun Nest Mini sudah tidak lagi dijual.
Dari segi tampilan, Google Home Speaker seperti versi yang sedikit "digeper" dari Apple HomePod mini. Dua tombol volume tersembunyi di balik kain di bagian atas speaker—tidak terlihat sampai pengguna mengetuknya dan dua lampu LED menyala untuk menunjukkan posisinya. Sayangnya, tidak ada indikator mana tombol naik atau turun; pengguna harus menebak dengan mengetuk.
Google sebenarnya sudah menggunakan pendekatan serupa pada speaker sebelumnya, dan hasilnya dulu kurang memuaskan—tombol Mini bahkan harus dinonaktifkan karena terlalu rewel. Kini, Google mengulangi pola yang sama. Di bagian bawah, ada sakelar fisik untuk mematikan mikrofon, fitur privasi yang patut diacungi jempol. Namun, kabel daya yang tidak bisa dilepas menjadi kelemahan: jika rusak, seluruh perangkat harus diganti.
Google mengganti woofer 75mm dan tweeter 19mm milik Nest Audio dengan satu driver 58mm tunggal. Hasilnya? Suara cukup baik untuk ukuran speaker sekecil ini, tapi tidak lebih baik dari kompetitor. Dalam pengujian langsung, Apple HomePod mini dan Amazon Echo Dot Max unggul di hampir semua genre.
Billy Joel terdengar lebih hangat di Echo Dot Max berkat dua speakernya (tweeter 0,8 inci dan woofer 2,5 inci). Lagu Olivia Rodrigo dan Snoop Dogg juga menunjukkan bahwa Echo Dot Max dan HomePod mini punya pemisahan mid dan high yang lebih bersih, serta bass yang lebih berisi. Google Home Speaker hanya terdengar "cukup"—tidak jelek, tapi juga tidak istimewa.
Jika hardware hanya sekadar wadah, maka Gemini adalah isinya. Asisten AI anyar Google ini jauh lebih cerdas daripada Google Assistant lama. Saat ditanya resep chicken wings, Gemini memberikan berbagai opsi dan bahkan menyimpannya ke Google Keep. Namun, ketika ditanya soal skor pertandingan, sempat terjadi kesalahan: Gemini menjawab "Prancis tidak bermain hari ini" padahal timnas Prancis baru saja mengalahkan Irak di Piala Dunia. Setelah dikoreksi, Gemini cepat memperbaiki diri dan memberikan ringkasan pertandingan.
Gemini for Home bisa digunakan gratis di Google Home Speaker, tapi untuk mengakses fitur percakapan alami dan kemampuan lain, pengguna harus berlangganan Google Home Premium. Paket Standard seharga 10 dolar AS per bulan (100 dolar AS per tahun) memberikan akses ke Gemini Live, pembuatan rutinitas otomatis, deteksi suara, dan 30 hari riwayat video. Paket Advanced seharga 20 dolar AS per bulan (200 dolar AS per tahun) menambahkan pencarian riwayat video, ringkasan harian, dan 60 hari riwayat video.
Sebagai pusat kendali rumah pintar, Google Home Speaker kalah dari Apple dan Amazon. HomePod mini punya sensor suhu dan kelembapan, sementara Echo Dot Max bisa berfungsi sebagai extender router eero serta memiliki sensor cahaya dan deteksi kehadiran. Google tidak menyematkan sensor tambahan semacam itu, membuatnya kurang integral dalam ekosistem rumah pintar.
Di sisi lain, speaker ini bisa dipasangkan dengan Google TV Streamer untuk pengalaman home theater. Dukungan Dolby Atmos dan kemampuan mengonversi audio HD ke format spasial menjadi nilai tambah, meski Amazon masih unggul karena bisa membuat sistem surround dengan lima speaker sekaligus.
Google Home Speaker bukanlah lompatan besar. Kecuali pengguna benar-benar menginginkan Gemini atau ingin membangun sistem home theater berbasis Google, tidak ada alasan kuat untuk mengganti Nest Audio yang masih berfungsi dengan baik. Pasar smart speaker kini sudah matang—Amazon dan Apple lebih dulu menyematkan sensor tambahan yang membuat perangkat mereka lebih dari sekadar pengeras suara. Google memilih jalan berbeda: mengandalkan AI sebagai pembeda. Tapi dengan biaya langganan tambahan, pertanyaannya kembali ke pengguna: seberapa besar mereka bersedia membayar untuk sebuah asisten yang lebih pintar?