SUMATERA UTARA — Mata uang Garuda memulai pekan ini dengan tekanan cukup berat. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,21 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. Pelemahan ini tidak berdiri sendiri—hampir seluruh mata uang Asia kompak berada di zona merah.
Yen Jepang turun 0,14 persen, baht Thailand melemah 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan koreksi 0,71 persen. Yuan China, peso Filipina, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong juga tak luput dari tekanan. Di kawasan negara maju, euro, poundsterling, franc Swiss, dolar Australia, dan dolar Kanada semuanya tercatat melemah terhadap greenback.
Kondisi ini menunjukkan penguatan dolar AS yang kembali dominan, didorong oleh aksi safe haven di tengah eskalasi geopolitik. "Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung," ujar Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong.
Selain faktor global, Bank Indonesia (BI) mencatat adanya kebutuhan dolar AS musiman yang meningkat. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, permintaan valas domestik naik signifikan untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen. Sementara di sisi lain, arus masuk dolar AS masih terbatas.
"Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan dalam keterangan resmi pada Jumat (29/5).
Di tengah kabar buruk, ada sedikit angin segar. Harga minyak yang sudah menurun bisa menjadi katalis positif bagi rupiah. Indonesia sebagai net importir minyak biasanya diuntungkan ketika harga komoditas energi ini turun, karena beban impor berkurang.
Namun, investor masih menunggu data ekonomi domestik yang akan dirilis besok. Inflasi dan neraca perdagangan menjadi dua indikator kunci yang bisa menentukan arah pergerakan rupiah selanjutnya. "Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," tambah Lukman.
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan. Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen untuk meredam volatilitas berlebih.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Artinya, meskipun ada tekanan, potensi pelemahan lebih dalam diperkirakan masih terbatas selama BI aktif di pasar.
Investasi mengandung risiko.